Keuangan.id – 08 April 2026 | Bank Negara Indonesia (BNI) mengungkapkan bahwa kenaikan harga energi global pada akhir 2023 hingga awal 2024 belum menimbulkan tekanan signifikan terhadap kualitas kredit bank. Menurut pernyataan resmi yang disampaikan oleh Kepala Divisi Risiko Kredit BNI, tren kenaikan harga energi masih berada dalam batas yang dapat dikelola, sehingga rasio non-performing loan (NPL) tidak menunjukkan peningkatan yang berarti.
Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan BNI antara lain:
- Mayoritas portofolio kredit BNI terkonsentrasi pada sektor-sektor yang tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi harga energi, seperti ritel, properti, dan layanan keuangan.
- Bank telah menerapkan kebijakan penyesuaian suku bunga dan restrukturisasi kredit bagi nasabah yang terdampak langsung oleh kenaikan tarif listrik dan bahan bakar.
- Cadangan kerugian kredit (provision) tetap berada pada level yang cukup kuat untuk menutup potensi kerugian di masa mendatang.
Namun, BNI tetap memantau secara intensif perkembangan pasar energi, terutama karena volatilitas harga minyak mentah dan gas alam dapat memengaruhi biaya produksi di sektor industri berat. Jika kenaikan energi berlanjut secara berkelanjutan, BNI siap meningkatkan penilaian risiko dan menyesuaikan strategi penyaluran kredit.
Secara umum, BNI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas portofolio kredit dan melindungi nasabah dari dampak eksternal yang tidak terduga. Bank juga mengimbau pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi energi serta memanfaatkan program subsidi pemerintah guna mengurangi beban biaya operasional.











