Keuangan.id – 17 April 2026 | Pada malam Selasa, 14 April 2026, hujan deras yang mengguyur wilayah Solo Raya memicu banjir luas yang menggenangi sejumlah kelurahan. Air meluap hingga setinggi betis, bahkan di beberapa daerah terlihat berwarna merah pekat, menimbulkan kepanikan dan kebingungan di antara warga.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), lebih dari 1.900 kepala keluarga tersebar di 12 kelurahan mengalami dampak banjir pada Rabu, 15 April 2026. Jumlah terdampak terus bertambah hingga Kamis, 16 April 2026, dengan total mencapai 1.083 KK di 12 wilayah, termasuk Pajang, Kedung Lumbu, Tipes, Joyosuran, Panularan, Sondakan, Laweyan, Sangkrah, Bumi, dan lainnya. Di samping genangan air, beberapa titik mengalami tanah longsor, memaksa warga mengungsi ke masjid, sekolah, dan balai warga.
BNPB mengaitkan intensitas hujan tinggi tersebut dengan dampak tidak langsung dari Bibit Siklon Tropis 92S yang masih berada di barat daya Sumatera. Meskipun siklon tersebut bergerak menjauh, pengaruhnya tetap terasa hingga wilayah Jawa Tengah, termasuk Solo, dan bahkan Kabupaten Bandung. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa potensi hujan deras masih berlanjut dalam dua hingga tiga hari ke depan, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
Warga di RW 06, Kelurahan Joyotakan, melaporkan fenomena air banjir berwarna merah. Masyarakat setempat menduga penyebabnya adalah limbah pewarna sablon yang dibuang di sekitar pintu air, sementara Lurah Joyotakan menyatakan bahwa bahan berwarna tersebut berasal dari kantong plastik yang berisi tinta merah, bukan limbah kimia berbahaya.
Pemerintah Kota Solo menanggapi bencana ini dengan rencana pembangunan talud atau parapet di sepanjang Sungai Jenes, yang menjadi salah satu sumber luapan air pada 14 April 2026. Wali Kota Respati Ardi menegaskan pentingnya koordinasi dengan Kabupaten Sukoharjo, mengingat aliran Sungai Jenes melintasi kedua wilayah. Talud direncanakan dibangun di seluruh aliran yang belum memiliki perlindungan, dengan tujuan mencegah banjir berulang.
Selain pembangunan talud, pemerintah kota menyoroti masalah bangunan liar yang berdiri di atas saluran drainase. Bangunan tidak resmi tersebut menyumbat aliran air, memperparah genangan. Upaya penertiban telah dimulai: pemilik bangunan dihubungi, saluran drainase diperbaiki, dan sungai‑sungai kecil dibersihkan.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Surakarta bersama Dinas Sosial, PMI, dan relawan masyarakat menyalurkan bantuan logistik berupa matras, selimut, paket sembako, serta mendirikan dapur umum di Kelurahan Joyotakan dan Tipes. Bantuan tersebut membantu warga yang mengungsi, terutama keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir dan longsor.
Berita terkini pada Rabu, 15 April 2026, pukul 18.00 WIB menunjukkan bahwa beberapa wilayah mulai mengalami penurunan genangan. Berikut daftar wilayah yang telah mulai surut:
- Kelurahan Tipes
- Kelurahan Pajang (kecuali area longsor)
- Kelurahan Joyosuran
- Kelurahan Panularan
- Kelurahan Sondakan
Sementara itu, wilayah lain seperti Kedung Lumbu dan Laweyan masih berada dalam kondisi genangan tinggi, sehingga evakuasi dan bantuan terus dipantau.
Di Kabupaten Bandung, banjir yang bersamaan dipicu oleh hujan lebat dan jebolnya tanggul Sungai Cisunggalah. Dua kecamatan, Majalaya dan Bojongsoang, terdampak, dengan sekitar 250 orang terpaksa mengungsi. Banjir di Majalaya sudah surut, namun Bojongsoang masih mengalami ketinggian air 10–150 cm.
Pemerintah daerah Bandung bersama warga melakukan gotong‑royong membersihkan lumpur dan material lain, sambil menyiapkan bantuan logistik serupa. Kedua wilayah tetap berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi.
Secara keseluruhan, banjir Solo dan sekitarnya menegaskan pentingnya penataan tata ruang, pencegahan bangunan liar, dan penguatan infrastruktur penahan air seperti talud. Koordinasi lintas daerah, kesiapsiagaan masyarakat, serta respons cepat dari lembaga penanggulangan bencana menjadi kunci dalam mengurangi dampak bencana serupa di masa depan.
Dengan cuaca yang masih tidak menentu, warga diimbau tetap mengikuti informasi resmi, menghindari area rawan, dan berpartisipasi dalam upaya menjaga kebersihan saluran air serta tidak membangun secara ilegal di atas drainase.











