Berita  

Banjir Bandang Demak: 15 Rumah Hancur Total, 4 Warga Terseret Arus, dan Upaya Pemulihan Besar-besaran

Banjir Bandang Demak: 15 Rumah Hancur Total, 4 Warga Terseret Arus, dan Upaya Pemulihan Besar-besaran
Banjir Bandang Demak: 15 Rumah Hancur Total, 4 Warga Terseret Arus, dan Upaya Pemulihan Besar-besaran

Keuangan.id – 07 April 2026 | Hujan deras yang melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah sejak Jumat, 3 April 2026, memicu jebolnya beberapa titik tanggul di Kecamatan Guntur. Akibatnya, aliran sungai Tuntang meluap dan menenggelamkan sembilan desa di empat kecamatan. Banjir bandang tersebut menewaskan satu anak berusia tujuh tahun dan menyebabkan kerusakan luas pada infrastruktur rumah warga.

Kerusakan Material dan Dampak Manusia

Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak mencatat total 1.325 kepala keluarga atau sekitar 5.148 jiwa terdampak. Di wilayah Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, arus deras menghancurkan 15 rumah secara total; 11 rumah hanyut, 7 rumah rusak berat, dan 9 rumah rusak ringan. Empat warga dilaporkan terseret arus, termasuk satu anak yang sayangnya tidak berhasil selamat. Korban anak tersebut, berinisial AR, ditemukan tewas pada Sabtu, 4 April setelah terperosok ke dalam aliran sungai yang deras.

Selain kerugian material, lebih dari dua ribu orang terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara. Hingga Senin malam, 12 warga masih berada di pengungsian Madin Sindon, menunggu bantuan lebih lanjut.

Penurunan Air dan Kondisi Terkini

Sejak Senin, 6 April 2026, air mulai berangsur surut. Desa Trimulyo dan Desa Tlogorejo yang sebelumnya terendam total kini dilaporkan telah kering sepenuhnya. Namun, satu titik tanggul yang belum sepenuhnya ditutup kembali meluap, menggenangi kembali area Dukuh Solondoko. Tim gabungan melakukan perbaikan darurat untuk mencegah kenaikan air lebih lanjut.

Respons Pemerintah Provinsi dan Bantuan Relawan

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengunjungi lokasi terdampak pada Selasa, 7 April 2026. Ia menegaskan bahwa penanganan bencana tidak dapat dilakukan secara terpisah, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat.

Berbagai pihak telah digabungkan untuk mempercepat pemulihan:

  • Pendanaan berasal dari pemerintah provinsi, pusat, Kabupaten Demak, Baznas, dan Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Tengah.
  • Program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) mencakup 7 unit rumah.
  • Distribusi 127 paket sembako dari Baznas Jateng.
  • Bantuan tunai senilai Rp 10.065.500 dari PMI Jateng.

Relawan dari organisasi kemasyarakatan, termasuk Ansor, turut terlibat dalam proses perbaikan dan pendistribusian bantuan. Salah satu korban, Ma’arif (39), mengaku bahwa bantuan mulai terasa; listrik, air bersih, dan makanan kini tersedia, meski rumahnya masih rusak sekitar 40 persen dan rumah orang tuanya hanyut total.

Upaya Jangka Panjang dan Pencegahan

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan rencana penanganan jangka panjang, termasuk normalisasi Sungai Tuntang dan perbaikan sistem pengendalian banjir. Taj Yasin menekankan pentingnya memastikan kejadian serupa tidak terulang dengan melakukan penataan ulang infrastruktur tanggul dan drainase.

Selain itu, proses pendataan pascabanjir terus berlangsung untuk memastikan kebutuhan logistik warga tetap terpenuhi selama masa pemulihan. Tim BPBD dan satgas gabungan memantau kondisi rumah, infrastruktur, serta kebutuhan kesehatan warga.

Dengan air yang kini berkurang, fokus utama beralih pada rekonstruksi, penyaluran bantuan, dan upaya mitigasi risiko banjir di masa depan. Masyarakat Demak berharap bantuan dapat mempercepat kembali aktivitas normal, terutama dalam bidang pertanian yang terdampak luas, mengingat 850 hektare sawah terendam dan berpotensi mengalami kerugian signifikan.

Keseluruhan, bencana ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan daerah rawan banjir, koordinasi lintas sektor, serta peran aktif masyarakat dalam proses pemulihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *