Keuangan.id – 14 Mei 2026 | Kedatangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing untuk pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping dibayangi tuduhan serius bahwa China diam-diam merencanakan pengiriman senjata ke Iran melalui jalur rahasia yang melibatkan negara ketiga.
Intelijen Amerika Serikat menyebut sejumlah perusahaan China telah membahas rencana pengiriman senjata ke Iran dengan menggunakan negara ketiga untuk menyamarkan asal usulnya.
Para pejabat AS masih berbeda pandangan apakah pengiriman tersebut sudah benar-benar terjadi atau baru sebatas rencana. Namun, isu ini cukup kuat untuk memicu tekanan diplomatik baru terhadap Beijing.
Isu ini menjadi semakin sensitif karena muncul tepat saat Donald Trump melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing. Kedatangan tersebut awalnya diharapkan menjadi pembahasan soal perdagangan dan hubungan bilateral.
Namun, laporan mengenai dugaan dukungan militer China ke Iran justru menggeser fokus pertemuan. Washington kini disebut berada di bawah tekanan untuk meminta Xi Jinping menghentikan segala bentuk dukungan terhadap Iran, yang dinilai sedang kembali memperkuat kemampuan militernya di tengah ketegangan regional.
Media AS sebelumnya juga melaporkan bahwa Iran telah menerima sistem senjata seperti rudal anti-pesawat bahu (MANPADS) yang mampu menghancurkan pesawat dan drone. Selain itu, Iran disebut telah memperoleh satelit mata-mata buatan China pada akhir 2024 yang digunakan untuk memantau dan menargetkan posisi militer Amerika di Timur Tengah.
Meski begitu, belum ada bukti bahwa senjata China telah digunakan langsung untuk menyerang pasukan AS. Pemerintah AS menyatakan bahwa belum ada kepastian apakah pemerintah China secara resmi menyetujui penjualan senjata tersebut.
Di sisi lain, China membantah keterlibatan resmi dalam suplai senjata ke Iran. Presiden Trump sebelumnya juga mengirim surat kepada Xi Jinping yang berisi permintaan agar China menghentikan pengiriman senjata ke Iran.
Sementara itu, perang di Iran diperkirakan akan membuat AS semakin bergantung pada China dalam hal pasokan mineral tanah jarang yang sangat penting untuk pembuatan senjata. China mendominasi produksi global mineral-mineral tersebut dan telah memberlakukan kontrol ketat dalam setahun terakhir.
Kontrol ketat ini dilakukan untuk memutus akses perusahaan asing yang terkait dengan militer dan memberikan tekanan politik pada pemerintahan Donald Trump. Tahun lalu, China terbukti efektif menggunakan dominasi rantai pasokan ini sebagai daya tawar.
Mantan pejabat perdagangan di pemerintahan George W Bush, Christopher Padilla mengatakan, keputusan AS untuk menghabiskan banyak amunisi presisi dalam perang melawan Iran hanya meningkatkan pengaruh tersebut.
Perang di Iran diperkirakan akan menjadi bagian dari pembicaraan antara Amerika Serikat dan China di Beijing. AS sangat ingin meminta bantuan China, mitra strategis Iran, dalam melaksanakan negosiasi tersebut.
Pengurangan persediaan amunisi AS telah menimbulkan pertanyaan tentang kemampuannya untuk melakukan tindakan militer lainnya, termasuk mempertahankan Taiwan dari setiap serangan China. Namun, sekadar membangun kembali pasokan senjata AS bisa menjadi masalah yang lebih mendesak bagi hubungan AS-China.
Perkiraan dari Departemen Pertahanan dan Kongres menunjukkan, AS mengerahkan sekitar setengah dari rudal jelajah siluman jarak jauhnya dan kira-kira 10 kali lipat jumlah rudal jelajah Tomahawk yang saat ini dibelinya setiap tahun sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.
Para ahli mengatakan, mineral tanah jarang tertanam di hampir setiap platform pertahanan canggih AS. Sebagai contoh, pesawat tempur siluman F-35 mengandung sekitar 408 kilogram unsur tanah jarang, sementara kapal perusak kelas Arleigh Burke mengandung sekitar 2.359 kg.
Trump juga menegaskan bahwa AS siap tempuh cara apa pun untuk hentikan nuklir Iran. Ia mengirim surat kepada Xi Jinping yang berisi permintaan agar China menghentikan pengiriman senjata ke Iran.
Dalam beberapa tahun ke depan, upaya AS untuk membangun kembali persediaannya berarti mereka membutuhkan akses ke mineral langka dari China. Setiap rudal yang ditembakkan ke Iran membuat mereka semakin bergantung pada China dan mineral langkanya dalam jangka pendek.
Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan AS untuk melakukan tindakan militer lainnya, termasuk mempertahankan Taiwan dari setiap serangan China. Namun, sekadar membangun kembali pasokan senjata AS bisa menjadi masalah yang lebih mendesak bagi hubungan AS-China.
Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa AS masih bergantung pada China dalam hal pasokan mineral tanah jarang, dan perang di Iran hanya meningkatkan pengaruh tersebut. AS perlu meminta bantuan China dalam melaksanakan negosiasi dengan Iran, dan membangun kembali pasokan senjata AS menjadi masalah yang lebih mendesak bagi hubungan AS-China.
