Ancaman Trump Kuatkan Dolar AS, Mata Uang Asia Tertekan Serentak

Ancaman Trump Kuatkan Dolar AS, Mata Uang Asia Tertekan Serentak
Ancaman Trump Kuatkan Dolar AS, Mata Uang Asia Tertekan Serentak

Keuangan.id – 04 April 2026 | Dolar Amerika Serikat menguat signifikan dalam pekan ini, dipicu oleh pernyataan mantan Presiden Donald Trump yang mengancam akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Kebijakan keras tersebut menambah ketidakpastian geopolitik dan memicu pergerakan beli pada mata uang dolar.

Penguatan dolar berdampak langsung pada nilai tukar mata uang di kawasan Asia. Kurs beberapa mata uang utama Asia melemah secara bersamaan, mencerminkan aliran modal yang beralih ke aset aman.

  • Rupiah Indonesia turun sekitar 0,8% terhadap dolar, menembus level 15.200 per dolar.
  • Yen Jepang melemah mendekati 150 per dolar, level terendah sejak 1990‑an.
  • Won Korea Selatan tertekan sekitar 0,7%, berada di kisaran 1.300 per dolar.
  • Ringgit Malaysia melemah sekitar 0,6%, berada di kisaran 4,30 per dolar.
  • Renminbi China juga mengalami penurunan tipis, sekitar 0,3% terhadap dolar.

Kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah yang melampaui US$ 80 per barel, memperparah tekanan inflasi di negara‑negara impor energi. Kebijakan Trump yang mengancam akan menambah sanksi terhadap Iran dipandang dapat memperpanjang konflik di Timur Tengah, sehingga pasar mencari perlindungan pada dolar.

Bank sentral di kawasan Asia diperkirakan akan menyesuaikan kebijakan moneter mereka. Beberapa analis memperkirakan Bank Indonesia dapat menurunkan suku bunga acuan atau melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan rupiah. Sementara Bank of Japan diprediksi tetap mempertahankan kebijakan moneter ultra‑longgar meski yen berada di level terlemah.

Mata Uang Perubahan (%) Kurs Terbaru
Rupiah (IDR) -0,8 15.200 per USD
Yen (JPY) -0,7 149,8 per USD
Won (KRW) -0,7 1.300 per USD
Ringgit (MYR) -0,6 4,30 per USD
Renminbi (CNY) -0,3 7,05 per USD

Para pelaku pasar di Asia diperingatkan untuk memperhatikan volatilitas yang masih tinggi. Penguatan dolar yang berkelanjutan dapat menambah beban pada neraca perdagangan negara‑negara importir energi serta menekan margin keuntungan perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor.

Exit mobile version