Keuangan.id – 15 Mei 2026 | Progres.id – Medan konflik di Lebanon terus meningkat dengan munculnya ancaman baru dari Hizbullah, yaitu drone berbasis serat optik yang sulit dihentikan oleh militer Israel. Menurut laporan Haaretz, militer Israel menggunakan jaring ikan sebagai perlindungan darurat untuk menghadapi serangan drone FPV milik Hizbullah.
Jaring ikan tersebut dipasok dari tambak-tambak milik kibbutz di wilayah lembah utara untuk dipasang di sekitar posisi militer dan kendaraan tempur. Seorang pejabat senior pasukan cadangan darat Israel mengakui belum ada solusi teknologi efektif untuk menghadapi drone serat optik Hizbullah.
Menurutnya, dorongan Israel untuk menjauhkan Hizbullah hingga melewati Sungai Litani tidak banyak membantu karena drone tersebut masih dapat dioperasikan hingga jarak sekitar 60 kilometer. Pejabat itu juga mengkritik kebijakan pemerintahan Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump yang disebut membuat militer "terbelenggu" dalam operasi di Lebanon.
Selain itu, media Israel Channel 7 melaporkan Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, telah menggelar rapat keamanan bersama Divisi Teknologi Militer, Unit 81, dan Direktorat Riset Kementerian Keamanan untuk mencari cara menghadapi kemampuan drone Hizbullah yang terus berkembang. Namun, pertemuan tersebut disebut berakhir tanpa menghasilkan solusi operasional baru.
Drone berbasis serat optik disebut menjadi tantangan utama karena berbeda dari drone biasa yang menggunakan gelombang radio. Drone jenis ini tetap terhubung dengan operator melalui kabel serat optik tipis sehingga tidak dapat dilumpuhkan menggunakan sistem peperangan elektronik. Selain itu, operator dapat menerima tayangan video secara langsung hingga detik terakhir sebelum benturan, membuat serangan menjadi lebih presisi.
Media Israel juga menyoroti kontras biaya antara drone Hizbullah dan sistem pertahanan Israel. Hizbullah disebut menggunakan drone murah dengan biaya sekitar 500 dolar AS untuk menyerang tentara dan kendaraan militer Israel dari jarak 10 hingga 15 kilometer. Di sisi lain, Israel harus mengerahkan sistem pertahanan udara dan teknologi militer bernilai jutaan dolar untuk menghadapi ancaman tersebut.
Karena belum ada solusi teknologi yang efektif, tentara Israel di Lebanon selatan disebut masih mengandalkan cara sederhana, termasuk menembaki drone menggunakan senjata ringan di sekitar posisi militer. Laporan itu muncul bersamaan dengan pengumuman militer Israel terkait tewasnya seorang tentara cadangan bernama Alexander Glubniov dalam serangan drone FPV Hizbullah. Tiga tentara lainnya dilaporkan terluka dalam serangan yang sama.
Militer Israel sebelumnya juga mengakui belum mampu mencegat drone jenis tersebut secara efektif. Media lokal Walla menyebut Hizbullah masih aktif mengoperasikan unit-unit drone terlatih dari Lebanon selatan untuk menyerang pasukan Israel. Kekhawatiran di dalam Israel pun dilaporkan terus meningkat seiring bertambahnya operasi drone Hizbullah di wilayah utara Palestina yang diduduki.
Sejumlah tentara Israel menggambarkan situasi mencekam ketika drone kecil muncul tiba-tiba di atas posisi mereka tanpa adanya sistem peringatan dini yang aktif. Dalam sepekan terakhir, beberapa serangan drone dilaporkan menyebabkan sedikitnya sembilan tentara Israel terluka, termasuk tiga orang dalam kondisi serius.
Hal ini menunjukkan bahwa ancaman baru dari Hizbullah masih menjadi tantangan utama bagi militer Israel. Oleh karena itu, perlu adanya solusi teknologi yang efektif untuk menghadapi kemampuan drone Hizbullah yang terus berkembang.
Seiring dengan meningkatnya konflik di Lebanon, perlu adanya perhatian lebih dari pemerintah Israel dan internasional untuk menyelesaikan masalah ini. Dengan demikian, keamanan di wilayah tersebut dapat terjaga dan masyarakat tidak terkena dampak negatif dari konflik ini.
Selain itu, perlu juga adanya keterlibatan dari pihak internasional untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Dengan demikian, keamanan di wilayah tersebut dapat terjaga dan masyarakat tidak terkena dampak negatif dari konflik ini.
