Keuangan.id – 06 April 2026 | Ajax mengalami kemunduran yang cukup tajam setelah menelan kekalahan 2-0 dari FC Twente dalam laga Eredivisie pekan ini. Hasil tersebut langsung menjadi perbincangan hangat di studio ESPN pada program *Dit Was Het Weekend*, dimana dua analis berpengalaman, Kenneth Perez dan Bram van Polen, mengupas tuntas penyebab kegagalan tim biru putih itu.
Kekalahan Ajax dari Twente
Pertandingan berlangsung pada Sabtu sore, menampilkan strategi tekanan tinggi yang sesekali diterapkan Ajax. Namun, Twente berhasil menembus pertahanan Ajax dengan cerdas, memanfaatkan ruang yang terbuka akibat pergerakan pemain Ajax yang kurang sinkron. Gol pertama muncul ketika pemain Twente memanfaatkan posisi Gaaei yang maju, sehingga membuka celah di tengah pertahanan Ajax.
Analisis Teknis di Studio ESPN
Bram van Polen menyoroti bahwa Twente menunjukkan “gogme” lebih tinggi dalam beberapa situasi kritis. Ia menjelaskan bahwa keputusan taktis Rots untuk memusatkan diri ketika Gaaei menyerang menjadi contoh wawasan yang tepat, sementara Ajax gagal menutup ruang tersebut. Van Polen juga menambahkan bahwa kesalahan beruntun terjadi sebelum gol, seperti kegagalan Mokio menutup pemain lawan dan kurangnya lari tambahan dari Weghorst.
Kenyan Perez, yang memfokuskan pembahasannya pada lini tengah, menilai Mokio sebagai pemain yang masih belum dapat mengantisipasi bahaya secara proaktif. Menurut Perez, Mokio lebih sering bereaksi daripada memprediksi pergerakan lawan, sehingga menimbulkan kerentanan di area tengah. Ia menekankan pentingnya pengalaman bagi pemain di posisi tersebut, mengingat kemampuan pemain senior untuk berada di ruang yang tepat sebelum situasi berkembang.
Kritik terhadap Pemain Muda
Kedua analis sepakat bahwa pemain berusia delapan belas tahun seperti Sean Steur dan Mokio masih berada dalam tahap adaptasi. Perez mengingatkan bahwa menuntut performa maksimal dari mereka secara konsisten bisa berisiko, terutama bila belum mendapatkan pengalaman bermain secara reguler. Van Polen menambahkan, “Kecuali mereka sudah setara dengan Gravenberch, sebaiknya mereka diberikan menit bermain secara bertahap.”
Selain itu, Perez tidak dapat menahan tawanya ketika membahas sayap kanan Ajax yang tampak tidak sesuai dengan citra tradisional klub. Ia melontarkan pertanyaan retoris kepada Van Polen, “Apakah Anda mengasosiasikan sayap kanan Ajax dengan Gaaei dan Edvardsen? Hahahaha, apa ini?” Candaan tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam atas performa sayap yang dinilai lemah dan tidak menimbulkan ancaman.
Harapan dan Tantangan Kedepan
Meskipun kritik tajam mengemuka, kedua analis memberikan catatan positif. Mereka menyoroti potensi pemain muda yang masih dapat dikembangkan melalui menit bermain terbatas dan bimbingan taktik yang lebih terstruktur. Penekanan pada peningkatan koordinasi antar lini, terutama antara gelandang dan penyerang, menjadi kunci untuk mengurangi ruang kosong yang dimanfaatkan lawan.
Manajemen Ajax diharapkan memperhatikan masukan ini dengan serius, mengingat jadwal kompetisi yang padat dan kebutuhan untuk tetap kompetitif di Eredivisie serta kompetisi Eropa. Penguatan lini tengah, penyesuaian taktik tekanan, serta rotasi pemain muda secara bijak dapat menjadi langkah strategis untuk mengembalikan performa tim ke jalur yang benar.
Secara keseluruhan, kekalahan dari Twente menjadi cermin bagi Ajax untuk mengevaluasi kelemahan taktis dan mengoptimalkan pengembangan talenta muda. Dengan mengintegrasikan pelajaran dari analisis ESPN, harapan akan kebangkitan Ajax di sisa musim tetap terbuka lebar.











