Keuangan.id – 14 Maret 2026 | Karakter Lee Ui‑Yeong, yang diperankan oleh Han Ji‑min dalam drama romantis komedi “The Practical Guide to Love“, dikenal sebagai perempuan mandiri yang selalu mengedepankan logika. Namun, kebiasaan‑kebiasaan halus namun berbahaya yang ia bawa ke dalam tiap kencan membuat hubungan potensial sering berakhir di titik singgung. Berikut rangkaian delapan perilaku buruk yang berulang dalam serial dan menghambat proses cinta Ui‑Yeong.
Kebiasaan 1: Terlalu Memutarbalikkan Percakapan
Ui‑Yeong kerap mengulang‑ulang dialog yang terjadi selama kencan, mencari makna tersembunyi bahkan pada jeda sekadar diam. Kebiasaan ini mengalihkan perhatiannya dari momen yang sedang berlangsung, menjadikan suasana terasa kaku dan tidak natural.
Kebiasaan 2: Membayangkan Masa Depan Terlalu Cepat
Setelah kencan berjalan menyenangkan, ia langsung melontarkan skenario hubungan jangka panjang. Harapan yang terbentuk sebelum ia benar‑benar mengenal pasangan menimbulkan kekecewaan ketika realitas tak sesuai dengan imajinasi.
Kebiasaan 3: Menggali Alasan di Balik Setiap Sikap
Upaya memahami lawan secara berlebihan membuat Ui‑Yeong mengabaikan perasaan sendiri. Ia menahan keraguan demi memberi “kesempatan lebih lama”, namun hasilnya hubungan menjadi tanpa arah jelas.
Kebiasaan 4: Meminta Pendapat Teman Secara Berlebihan
Setiap keputusan kencan, baik soal tempat maupun topik pembicaraan, selalu dikonsultasikan ke lingkaran pertemanan. Masukan yang menumpuk menambah beban mental, mengurangi kepercayaan diri dalam membuat pilihan sendiri.
Kebiasaan 5: Menyiapkan Segalanya Secara Terlalu Rapi
Ui‑Yeong suka menyiapkan skenario pembicaraan sebelum pertemuan. Persiapan yang terstruktur membuat kencan terasa formal, menghilangkan spontanitas yang dibutuhkan untuk membangun kehangatan.
Kebiasaan 6: Kesulitan Menikmati Suasana Santai
Karena terbiasa mengontrol setiap detail, ia merasa tidak nyaman ketika situasi menjadi longgar. Ketidakmampuannya beradaptasi pada suasana santai menimbulkan ketegangan pada kedua belah pihak.
Kebiasaan 7: Mengabaikan Emosi Pribadi
Dalam upaya memahami orang lain, Ui‑Yeong sering menekan perasaan internalnya. Ia menunda mengungkapkan keraguan atau ketidaknyamanan, yang pada akhirnya menumpuk menjadi frustrasi tersembunyi.
Kebiasaan 8: Terlalu Mengandalkan Analisis Logika
Logika yang menjadi andalannya ternyata tidak selalu cocok dalam ranah emosional. Ketika ia menilai situasi kencan secara eksklusif melalui perspektif rasional, ia kehilangan peluang untuk merasakan keintiman secara alami.
Serangkaian kebiasaan di atas tampak sederhana, namun efek kumulatifnya cukup besar. Dalam episode‑episode terbaru, penonton dapat menyaksikan bagaimana Ui‑Yeong perlahan menyadari bahwa membuka hati tidak selalu harus disertai kontrol total. Perjalanan emosionalnya menjadi inti pesan drama: cinta memerlukan keseimbangan antara logika dan perasaan, antara perencanaan dan spontanitas.
Kesadaran akan kebiasaan‑kebiasaan ini tidak hanya relevan bagi penonton drama, melainkan juga bagi siapa saja yang berusaha menavigasi dunia kencan modern. Mengurangi overthinking, memberi ruang pada emosi, dan mengurangi ketergantungan pada pendapat luar dapat menjadi langkah awal menuju hubungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.











