Keuangan.id – 26 April 2026 | NASA bersiap meluncurkan Artemis II, misi berawak pertama ke Bulan sejak pendaratan Apollo 17 pada tahun 1972. Program Artemis tidak hanya menandai kembalinya manusia ke satelit alami bumi, melainkan juga menyiapkan fondasi bagi eksplorasi lebih jauh, termasuk misi ke Mars. Berikut tujuh fakta penting yang perlu diketahui tentang Artemis II, dari tujuan strategis hingga teknologi canggih yang akan dibawa ke luar angkasa.
Fakta #1: Tujuan Utama Misi
Artemis II bertujuan menguji sistem penerbangan berawak secara menyeluruh, termasuk roket Space Launch System (SLS) dan modul Orion. Selama penerbangan sekitar 10 hari, kru akan mengelilingi Bulan tanpa melakukan pendaratan, memastikan semua sistem berfungsi dalam kondisi mikrogravitasi dan radiasi luar angkasa. Keberhasilan misi ini menjadi prasyarat kritis bagi Artemis III, yang dijadwalkan mendaratkan astronot di kutub selatan Bulan.
Fakta #2: Kru Internasional
Artemis II akan menjadi misi berawak pertama yang menampilkan kru multinasional. Empat astronot terpilih meliputi seorang komandan NASA, pilot dari ESA, serta dua spesialis misi yang mewakili Kanada dan Jepang. Keberagaman ini menegaskan komitmen global terhadap eksplorasi luar angkasa dan memperkuat kerja sama internasional dalam bidang sains dan teknologi.
Fakta #3: Teknologi Orion yang Ditingkatkan
Modul Orion yang digunakan dalam Artemis II mengalami peningkatan signifikan dibandingkan prototipe sebelumnya. Sistem pelindung termal kini lebih tahan terhadap suhu ekstrem saat kembali ke atmosfer bumi, sementara sistem komunikasi laser memungkinkan transmisi data berkecepatan tinggi antara Orion dan stasiun bumi. Interiornya dilengkapi dengan kursi berteknologi mitigasi gaya G, meningkatkan kenyamanan dan keselamatan kru selama peluncuran.
Fakta #4: Roket Space Launch System (SLS) Terkuat
SLS Block 1, roket paling kuat yang pernah dibangun, akan meluncurkan Orion ke luar angkasa. Dengan daya dorong lebih dari 8,8 juta pon, SLS mampu mengangkat beban hingga 27 ton ke orbit bulan. Peningkatan pada motor inti dan booster strap-on memastikan stabilitas selama fase peluncuran, sekaligus mengurangi getaran yang dapat memengaruhi peralatan sensitif di dalam kapsul.
Fakta #5: Jalur Penerbangan Mengelilingi Bulan
Setelah mencapai orbit translunar, Orion akan melakukan manuver flyby di sekitar Bulan, mencapai ketinggian sekitar 100 kilometer di atas permukaan. Selama fase ini, kru akan melakukan eksperimen mikrogravitasi, mengamati medan magnet lunar, dan menguji prosedur evakuasi darurat. Poin pentingnya adalah pengumpulan data real‑time yang akan memperkaya pengetahuan tentang lingkungan lunar yang masih banyak misterinya.
Fakta #6: Persiapan untuk Pendaratan di Kutub Selatan
Artemis II tidak langsung mendarat, namun data yang diperoleh akan menjadi referensi utama bagi Artemis III. Kutub selatan Bulan dipilih karena adanya es air yang berpotensi menjadi sumber air bagi misi jangka panjang. Selama flyby, kamera beresolusi tinggi akan memetakan area tersebut, membantu perencanaan pendaratan yang aman dan efisien.
Fakta #7: Dampak Ilmu Pengetahuan dan Ekonomi
Selain prestise geopolitik, Artemis II diharapkan memicu inovasi teknologi yang dapat diaplikasikan di industri bumi, seperti material tahan suhu tinggi, sistem energi terbarukan, dan komunikasi berkecepatan tinggi. Pemerintah Amerika Serikat menargetkan penciptaan ribuan lapangan kerja di sektor aerospace, sekaligus membuka peluang kerjasama komersial dengan perusahaan swasta yang berpartisipasi dalam program Artemis.
Secara keseluruhan, Artemis II menandai era baru dalam eksplorasi luar angkasa. Dari kru internasional hingga roket paling kuat yang pernah dibuat, semua elemen dirancang untuk memastikan keberhasilan misi berawak pertama kembali ke Bulan dalam lebih dari setengah abad. Keberhasilan Artemis II tidak hanya akan menuliskan kembali sejarah manusia di luar angkasa, tetapi juga membuka jalan bagi ambisi lebih besar, termasuk eksplorasi Mars dalam dekade mendatang.











