Berita  

WHO Peringatkan Ancaman Serangan Fasilitas Kesehatan di Iran: Dampak Fatal dan Krisis Kemanusiaan

WHO Peringatkan Ancaman Serangan Fasilitas Kesehatan di Iran: Dampak Fatal dan Krisis Kemanusiaan
WHO Peringatkan Ancaman Serangan Fasilitas Kesehatan di Iran: Dampak Fatal dan Krisis Kemanusiaan

Keuangan.id – 04 April 2026 | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 3 April 2026 mengeluarkan peringatan keras terkait serangkaian serangan terhadap fasilitas kesehatan di wilayah Timur Tengah, khususnya Iran, yang semakin memperburuk krisis kemanusiaan. Kepala WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyoroti lebih dari seratus enam serangan terverifikasi yang menargetkan rumah sakit, laboratorium, dan pusat layanan medis sejak konflik berskala regional dimulai pada akhir Februari 2026.

Serangan terhadap Institut Pasteur Tehran

Instansi paling bersejarah di Iran, Institut Pasteur Tehran, yang didirikan pada 1920, menjadi salah satu korban utama. Gedung utama mengalami kerusakan signifikan hingga tidak dapat melanjutkan layanan kesehatan. Meskipun demikian, menurut laporan resmi Kementerian Kesehatan Iran, produksi vaksin dan serum tetap berjalan dan tidak ada staf yang terluka dalam serangan yang diduga dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Korban di Kalangan Tenaga Medis

Sejak akhir Februari, setidaknya 24 tenaga medis, termasuk dokter, perawat, dan teknisi, tewas dalam aksi tembakan dan serangan udara. Kepala Layanan Medis Darurat Iran, Jafar Miadfar, mencatat tiga di antaranya adalah anggota tim darurat 115. Kejadian ini menambah beban psikologis bagi tim medis yang terus berjuang melayani korban sipil yang jumlahnya terus meningkat.

Kerusakan Fasilitas Kesehatan Lainnya

WHO mengonfirmasi bahwa sekitar dua puluh fasilitas kesehatan di Iran telah menjadi sasaran serangan, termasuk rumah sakit di ibu kota dan daerah perifer. Di luar Iran, sistem kesehatan di Irak, Yordania, Lebanon, dan Suriah juga mengalami tekanan berat akibat serangan dan perpindahan penduduk yang diperkirakan mencapai empat juta orang. Lebih dari tiga ribu orang tewas dan lebih dari tiga puluh ribu luka di kawasan tersebut.

Ancaman terhadap Infrastruktur Nuklir

Serangkaian serangan yang dilakukan oleh koalisi AS‑Israel juga menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr. Menurut Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, fasilitas tersebut dibom empat kali sejak 28 Februari 2026. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan tidak ada peningkatan tingkat radiasi pasca‑serangan, namun menekankan risiko potensial yang sangat tinggi jika fasilitas nuklir atau petrokimia menjadi sasaran. Sebuah personel keamanan tewas akibat pecahan proyektil, dan ratusan staf Rusia dari Rosatom dievakuasi.

Upaya WHO dalam Menanggulangi Krisis

Untuk mengatasi tekanan pada layanan kesehatan, WHO mengajukan permohonan dana sebesar US$30,3 juta untuk periode Maret–Agustus 2026. Dana tersebut ditujukan untuk mendukung layanan kesehatan darurat, perawatan trauma, pengawasan penyakit, sistem peringatan dini, serta kesiapan menghadapi ancaman bahan kimia, biologi, radiologi, dan nuklir. WHO menekankan bahwa meningkatnya serangan dapat memicu wabah penyakit menular serta bahaya lingkungan seperti kebakaran minyak, bom fosfor putih, dan pencemaran udara.

Secara keseluruhan, serangan terhadap fasilitas kesehatan dan infrastruktur kritis menandai eskalasi konflik yang tidak hanya mengancam keamanan fisik, tetapi juga mengganggu upaya mitigasi kesehatan publik. WHO menyerukan semua pihak untuk menghormati perlindungan terhadap tenaga medis dan fasilitas kesehatan sesuai Konvensi Jenewa, serta menghentikan segala bentuk serangan yang dapat memperburuk krisis kemanusiaan.

Jika tidak ada intervensi diplomatik yang efektif, risiko meluasnya epidemi, kerusakan lingkungan, dan penderitaan warga sipil akan terus meningkat, menuntut respons internasional yang lebih tegas dan koordinasi bantuan kemanusiaan yang meluas.

Exit mobile version