Berita  

Warga Lebanon Pulang Saat Gencatan Senjata, Nekat Seberangi Sungai, Jembatan Hancur Dibom Israel

Warga Lebanon Pulang Saat Gencatan Senjata, Nekat Seberangi Sungai, Jembatan Hancur Dibom Israel
Warga Lebanon Pulang Saat Gencatan Senjata, Nekat Seberangi Sungai, Jembatan Hancur Dibom Israel

Keuangan.id – 26 April 2026 | Beirut – Pada Sabtu, 25 April 2026, ribuan warga Lebanon Selatan berbondong‑bondong kembali ke desa‑desa mereka usai perpanjangan gencatan senjata tiga pekan yang disepakati antara Israel dan Lebanon. Meskipun militer Israel secara tegas melarang penduduk setempat memasuki zona‑zona tertentu, banyak yang nekat menyeberangi Sungai Litani, bahkan melewati jembatan yang kemudian hancur akibat pengeboman Israel.

Latar Belakang Gencatan Senjata

Gencatan senjata awalnya diumumkan pada 16 April 2026 selama sepuluh hari, namun pelanggaran berulang membuat pihak internasional menengahi perpanjangan hingga tiga pekan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi kesepakatan tersebut setelah dua putaran negosiasi tingkat tinggi di Gedung Putih. Meskipun demikian, situasi di perbatasan selatan Lebanon tetap tegang.

Peringatan Militer Israel

Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, menyampaikan melalui platform X bahwa warga tidak diperbolehkan mendekati area-area strategis, termasuk kawasan Sungai Litani, Lembah Salhani, dan Saluki, serta lebih dari lima puluh desa di sekitarnya. Penegasan ini didasarkan pada klaim bahwa aktivitas militer masih berlangsung meski gencatan senjata diperpanjang.

Warga Lebanon Tetap Menyusuri Sungai

Berbagai laporan lapangan menunjukkan warga‑warga yang terpaksa meninggalkan rumah selama serangan artileri dan roket pada pekan lalu kini mencoba kembali. Karena banyak akses darat masih terputus, mereka memilih menyeberangi Sungai Litani menggunakan perahu kecil atau jembatan darurat. Salah satu saksi mata, Ahmad Khalil, mengaku: “Kami tidak mau tinggal di kamp pengungsian selamanya. Kami menyeberang meski tahu risiko, karena rumah kami menunggu.”

Jembatan yang Hancur

Pada malam 24 April, pasukan Israel melancarkan serangan udara ke tiga lokasi yang diklaim sebagai basis peluncur roket Hizbullah. Salah satu target berada di dekat jembatan utama yang menghubungkan desa‑desa di sisi barat sungai. Ledakan menghancurkan struktur baja, meninggalkan puing‑puing yang menghalangi arus lalu lintas manusia dan bantuan kemanusiaan. Foto-foto yang beredar menunjukkan jembatan berderak dan runtuh, memperparah kondisi warga yang sudah terdesak.

Dinamika Politik dan Keamanan

Selain peringatan militer, Israel melaporkan serangan artileri ke kota Houla di wilayah Marjayoun, menambah daftar korban sipil. Sementara itu, Hizbullah menuduh Israel melanggar gencatan senjata dengan terus melancarkan serangan balasan. Pihak Lebanon, melalui National News Agency, menegaskan bahwa warga yang kembali ke desa‑desa harus dilindungi dan akses bantuan harus dipulihkan.

Dampak Kemanusiaan

  • Ribuan warga mengungsi kembali ke rumah yang rusak.
  • Jembatan yang hancur menghambat distribusi makanan, air bersih, dan obat‑obatan.
  • Ketidakpastian keamanan meningkatkan risiko korban sipil baru.

Organisasi bantuan internasional, termasuk Palang Merah dan UNRWA, berusaha menyiapkan titik evakuasi darurat di lokasi yang masih aman, namun operasi mereka terhambat oleh larangan militer Israel.

Prospek ke Depan

Para analis memperkirakan bahwa selama gencatan senjata masih dipertahankan, tekanan politik akan mendorong kedua belah pihak untuk mencari solusi diplomatik yang lebih permanen. Namun, setiap pelanggaran kecil dapat memicu eskalasi kembali, terutama jika infrastruktur penting seperti jembatan tidak segera diperbaiki.

Dengan kondisi yang masih rawan, warga Lebanon Selatan terus menanti kepastian keamanan dan bantuan. Upaya rekonstruksi jembatan dan pemulihan akses wilayah menjadi prioritas utama bagi otoritas Lebanon serta komunitas internasional.

Exit mobile version