Keuangan.id – 10 April 2026 | Ratusan warga Israel berkumpul di Times Square, New York, pada Jumat sore untuk menyuarakan protes menentang kebijakan Pemerintah Israel di tengah konflik yang meluas di Timur Tengah. Demonstran, yang membawa spanduk berwarna biru‑putih serta menuliskan tuntutan “Akhiri Perang” dan “Netanyahu Mundur”, menuntut agar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghentikan operasi militer yang terus menambah korban di Gaza, Lebanon, dan wilayah sekitarnya.
Suasana di jantung kota New York tampak riuh. Para peserta demo, sebagian besar merupakan diaspora Israel dan pendukung perdamaian, mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap ribuan nyawa yang telah melayang sejak pecahnya konflik pada akhir Oktober 2023. Mereka menuntut dialog yang konstruktif serta upaya diplomatik yang lebih intensif, mengingat situasi di Gaza yang terus memanas dan serangan balasan yang dilakukan oleh kelompok militan Hizbullah di Lebanon.
Netanyahu Menegaskan Kebijakan Militer Tanpa Kompromi
Di sisi lain, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak menunjukkan tanda‑tanda melunak. Pada hari yang sama, ia mengeluarkan pernyataan tegas melalui akun resmi X-nya, menyatakan bahwa Israel akan terus melancarkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon, terlepas dari adanya gencatan senjata yang disepakati antara Amerika Serikat dan Iran. Netanyahu menegaskan, “Kami akan terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan, presisi, dan tekad, sampai keamanan warga Israel di wilayah utara terjamin.”
Pernyataan tersebut muncul satu hari setelah serangan udara Israel menghantam wilayah selatan Lebanon, menewaskan ratusan orang, termasuk tokoh penting Hizbullah, Ali Yusuf Harshi, yang sekaligus merupakan keponakan pemimpin partai. Netanyahu menambahkan bahwa operasi militer ini mencakup penyerangan pada infrastruktur militer Hizbullah, termasuk titik penyeberangan senjata, depot roket, dan pusat komando.
Perang Iran‑Israel Belum Selesai, Siap Angkat Senjata Kapan Pun
Selain menyoroti konflik di Lebanon, Netanyahu juga menegaskan bahwa perang melawan Iran belum usai. Dalam sebuah wawancara televisi yang disiarkan pada Kamis, 9 April 2026, ia mengatakan bahwa Israel siap kembali ke medan pertempuran bila diperlukan, meski terdapat gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran. “Kami tetap memegang jari di pelatuk,” ujarnya, menambah bahwa Iran tetap menjadi ancaman eksistensial bagi Israel.
Netanyahu menolak kritik dari oposisi, terutama dari Yair Lapid, yang menuding gencatan senjata sebagai bencana diplomatik. Ia menegaskan bahwa tujuan utama Israel adalah melucuti kemampuan nuklir dan rudal balistik Iran, serta menghentikan pengaruh Tehran di wilayah regional.
Reaksi Internasional dan Dinamika Regional
Serangan Israel ke Lebanon dan kebijakan keras terhadap Iran menuai kecaman dari berbagai pihak. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyatakan bahwa serangan Israel merupakan pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata, menuntut Amerika Serikat memilih antara perang atau perdamaian. Sementara itu, pernyataan dari Amerika Serikat belum secara eksplisit menolak aksi militer Israel, meski menekankan pentingnya menahan eskalasi lebih lanjut.
Di tengah tekanan internasional, demonstrasi di Times Square mencerminkan kelelahan dan keprihatinan warga Israel yang ingin melihat akhir konflik. Mereka menyoroti bahwa konflik yang meluas tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menimbulkan krisis kemanusiaan, pengungsian massal, dan kerusakan infrastruktur di Gaza serta wilayah Lebanon.
Sejumlah analis politik menilai bahwa demonstrasi diaspora ini dapat memengaruhi kebijakan luar negeri Israel, terutama bila tekanan publik meningkat di negara‑negara sekutu. Namun, posisi Netanyahu yang tegas menunjukkan bahwa pemerintahannya masih mengedepankan pendekatan militer sebagai prioritas utama, sambil tetap membuka ruang untuk negosiasi di belakang layar.
Dengan ribuan korban di Gaza, ratusan jiwa melayang di Lebanon, serta ketegangan yang terus memuncak dengan Iran, situasi di Timur Tengah berada pada titik kritis. Demonstrasi warga Israel di New York menandai suara baru yang menuntut perubahan, sementara kebijakan Netanyahu menegaskan bahwa Israel belum siap mengakhiri operasi militer sampai semua tujuan keamanan tercapai.
Jika tekanan domestik dan internasional terus meningkat, kemungkinan munculnya jalur diplomatik yang lebih intensif tidak dapat diabaikan. Namun, hingga kini, pernyataan tegas Netanyahu dan aksi militer di wilayah perbatasan menandakan bahwa konflik ini masih jauh dari kata selesai.
