Keuangan.id – 01 April 2026 | Israel pada hari Selasa (31/3/2026) merilis rekaman video yang memperlihatkan serangan udara ke sebuah mobil milik jurnalis independen yang sedang meliputi situasi di perbatasan selatan Lebanon. Video tersebut menampilkan ledakan yang menghancurkan kendaraan, menewaskan tiga orang yang berada di dalamnya, termasuk satu jurnalis asing dan dua asisten lokal. Insiden ini memicu kecaman keras dari komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB), pemerintah Indonesia, serta sejumlah negara sahabat.
Rincian Serangan dan Korban
Rekaman menunjukkan pesawat tempur yang meluncurkan misil berpemandu ke arah mobil berwarna putih dengan stiker “Press”. Ledakan mengakibatkan tiga korban meninggal di tempat, sementara dua orang lainnya mengalami luka serius dan dilarikan ke rumah sakit St. George di Beirut. Nama jurnalis asing yang menjadi korban belum diungkap secara resmi, namun identitas asisten lokal telah diketahui: Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan – tiga prajurit TNI yang tengah mendampingi tim media dalam misi pengawasan keamanan di zona konflik.
Latar Belakang Konflik di Lebanon Selatan
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi militer antara Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah di Lebanon selatan. Pada minggu sebelumnya, pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mengalami dua serangan terpisah yang menewaskan tiga prajurit TNI dan melukai lima lainnya. Serangan pertama menimpa konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Haiyyan, sementara serangan kedua menimpa pos UNIFIL di Adchit al‑Qusayr. Kedua peristiwa tersebut telah menjadi sorotan internasional karena menyoroti peningkatan risiko bagi personel netral yang berada di zona konflik.
Reaksi Pemerintah Indonesia
- Kementerian Luar Negeri RI mengutuk keras serangan Israel yang menargetkan jurnalis dan pasukan perdamaian, menegaskan bahwa keselamatan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar.
- Indonesia menuntut penyelidikan menyeluruh dan transparan oleh PBB serta menolak segala bentuk pelanggaran hukum internasional.
- Relais resmi menyatakan solidaritas kepada keluarga korban dan menekankan pentingnya menghormati mandat UNIFIL sebagaimana diatur dalam Resolusi Dewan Keamanan No. 1701.
Pernyataan PBB dan Komunitas Internasional
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan menegaskan bahwa penargetan pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima. Kepala Operasi Perdamaian PBB, Jean Pierre Lacroix, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada pemerintah Indonesia dan keluarga korban, serta menegaskan bahwa para penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran dalam konflik bersenjata.
Berbagai negara anggota PBB, termasuk Malaysia, Turki, dan Prancis, menyampaikan pernyataan serupa, menuntut Israel menghentikan operasi militer di wilayah Lebanon dan membuka jalur penyelidikan independen.
Sikap Israel
Militer Israel (IDF) melalui kanal resmi Telegram menanggapi tuduhan dengan menyatakan bahwa insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk menentukan apakah keterlibatan Hizbullah atau faktor lain yang menyebabkan ledakan. Israel menegaskan bahwa operasi mereka berada di zona pertempuran aktif dan menolak tuduhan menargetkan pasukan PBB.
Dampak terhadap Misi UNIFIL
Serangkaian serangan ini menambah tekanan pada mandat UNIFIL, yang bertugas menstabilkan perbatasan selatan Lebanon dan melindungi sipil serta pasukan perdamaian. PBB kini mempertimbangkan pengajuan resolusi darurat di Dewan Keamanan untuk menuntut gencatan senjata dan peninjauan ulang aturan operasional UNIFIL di zona konflik.
Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada 31 Maret 2026, wakil tetap Indonesia, Umar Hadi, menegaskan bahwa serangan berulang Israel telah menciptakan zona permusuhan yang melanggar kedaulatan Lebanon serta menimbulkan risiko tinggi bagi penjaga perdamaian. Indonesia meminta agar PBB melakukan penyelidikan independen dan menolak segala upaya “framing” yang menempatkan korban pada posisi yang salah.
Dengan tiga korban jiwa dalam satu minggu, termasuk jurnalis yang menyiarkan fakta di lapangan, tekanan internasional terhadap Israel semakin kuat. Komunitas media global menuntut akses aman untuk peliputan, sementara organisasi hak asasi manusia menyerukan investigasi independen atas semua serangan yang menargetkan non‑kombatan.
Situasi di Lebanon selatan tetap tegang. Pihak militer Israel belum mengumumkan rencana penghentian operasi, sementara UNIFIL meningkatkan prosedur keamanan dan menyiapkan jalur evakuasi darurat bagi personel di area rawan tembakan.
Berita ini terus berkembang seiring dengan upaya diplomatik yang sedang berlangsung. Semua pihak menanti hasil penyelidikan resmi yang diharapkan dapat mengidentifikasi pihak bertanggung jawab dan mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
