Keuangan.id – 21 Mei 2026 | Konflik antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Iran semakin memanas sejak perang antara AS-Israel melawan Iran pada Februari lalu. Salah satu titik konflik terletak di Selat Hormuz, jalur pelayaran global yang vital. Iran telah memperluas wilayah kendali di Selat Hormuz hingga ke perairan di selatan pelabuhan Fujairah, UEA, yang menampung infrastruktur minyak untuk menghindari Selat Hormuz.
Klaim Iran dan Reaksi UEA
Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) Iran mengumumkan pembentukan zona maritim terkontrol di Selat Hormuz, yang sebagian merupakan perairan UEA. Penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, mengecam klaim Iran tersebut sebagai angan-angan belaka dan menegaskan bahwa upaya untuk mengendalikan Selat Hormuz atau melanggar kedaulatan maritim UEA hanyalah khayalan.
UEA juga menentang kendali Iran atas Selat Hormuz dan menyerukan tindakan bersama untuk memastikan kebebasan navigasi melalui jalur air tersebut. Sementara itu, Iran mengenakan biaya kepada kapal untuk melewatinya dan bersikeras bahwa kapal harus mendapatkan izin dari angkatan bersenjatanya.
Pipa Minyak UEA sebagai Alternatif
Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) mengatakan bahwa proyek pipa minyak baru dari barat ke timur yang dirancang untuk menghindari Selat Hormuz hampir 50 persen selesai. Proyek ini dipercepat untuk memperkuat keamanan ekspor energi di tengah ketegangan regional.
Jalur pipa minyak tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang UEA untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. UEA telah berinvestasi selama lebih dari satu dekade dalam infrastruktur yang bertujuan untuk menghindari jalur perairan strategis tersebut.
Kerja Sama Energi Bersih
Sementara itu, perusahaan-perusahaan dari beberapa negara di kawasan Timur Tengah, seperti UEA dan Arab Saudi, bermitra dengan perusahaan fotovoltaik (PV) China untuk mendorong transisi energi hijau. Produsen PV China JinkoSolar menandatangani sebuah perjanjian pasokan modul 2 GW dengan Masdar, sebuah perusahaan energi dari UEA, untuk proyek Round-The-Clock (RTC), sebuah proyek PV dengan penyimpanan baterai.
Perjanjian kerangka kerja itu merupakan langkah strategis dalam transisi energi UEA dan membantu Abu Dhabi mencapai targetnya untuk memenuhi 60 persen kebutuhan energinya dari sumber terbarukan dan bersih pada 2035.
Kerja sama antara perusahaan China dan Timur Tengah ini menciptakan momentum yang kuat untuk pengembangan tenaga surya di kawasan tersebut, dengan China sebagai produsen produk PV terbesar di dunia.
Iran sendiri juga berupaya untuk meningkatkan kontrol atas Selat Hormuz dengan membentuk zona maritim terkontrol. Namun, upaya ini ditentang oleh UEA dan negara-negara lain yang memiliki kepentingan di jalur pelayaran tersebut.
Konflik antara UEA dan Iran ini memiliki dampak yang signifikan terhadap keamanan energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang vital untuk ekspor minyak. Oleh karena itu, upaya untuk mencari alternatif dan meningkatkan keamanan ekspor energi menjadi sangat penting.
