Keuangan.id – 08 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan tegas terkait ketegangan dengan Iran. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, ia menyatakan bahwa pasukan AS mampu menghancurkan seluruh wilayah Iran dalam satu malam, dan menambahkan bahwa aksi tersebut berpotensi dilaksanakan pada malam Selasa, 7 April 2026.
Trump menekankan bahwa ancaman tersebut mencakup penghancuran infrastruktur kritis Iran, termasuk pembangkit listrik, sumur minyak, pulau Kharg, dan fasilitas desalinasi, apabila jalur strategis Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
- Amerika Serikat mengklaim kemampuan militer untuk melakukan serangan total dalam semalam.
- Target serangan meliputi infrastruktur vital Iran.
- Penekanan pada pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai syarat utama.
Pihak Tehran menolak adanya dialog langsung dengan Washington. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa semua komunikasi hanya berlangsung melalui perantara, dan tidak ada pembicaraan bilateral antara kedua negara.
Dalam perkembangan terpisah, Kepala Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Majid Khademi, dilaporkan tewas dalam serangan yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa kematian Khademi tidak akan melemahkan pertahanan Iran dan menuding AS‑Israel atas kegagalan mereka.
Ketegangan antara AS dan Iran semakin memuncak sejak akhir Februari 2026, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi. Sebagai respons, Iran melakukan serangan balik ke instalasi militer Israel serta fasilitas milik Amerika di Timur Tengah, serta mengambil kendali atas Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20 % perdagangan minyak dunia.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran internasional mengenai stabilitas energi global dan potensi eskalasi militer lebih lanjut. Pengamat memperingatkan bahwa setiap tindakan militer tambahan dapat memperburuk krisis kemanusiaan di kawasan dan mengganggu pasar energi dunia.
