Keuangan.id – 11 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan kemarahannya pada Kamis malam (9 April 2026) melalui unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, setelah mengetahui bahwa Iran hanya mengizinkan dua kapal tanker melintasi Selat Hormuz meski gencatan senjata telah diumumkan. Trump menilai keputusan Iran sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah disepakati bersama, dan menegaskan kembali ambisinya untuk menguasai jalur strategis tersebut.
Latar Belakang Konflik
Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah lebih dari satu bulan pertempuran antara pasukan AS dan Iran. Pada 7 April 2026, Iran mengumumkan gencatan senjata yang mencakup pembukaan kembali jalur perdagangan minyak melalui selat penting itu. Namun, dalam pernyataan resmi Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, disebutkan bahwa hanya kapal-kapal tertentu yang akan diizinkan melintas, dengan koordinasi bersama Angkatan Laut Iran dan pertimbangan teknis.
Reaksi Trump dan Tuduhan Terhadap Iran
Dalam unggahan yang viral, Trump menulis, “Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!” Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan Trump atas apa yang ia anggap sebagai tindakan tidak kooperatif Iran, serta menegaskan kembali keinginannya untuk mengendalikan sumber daya energi di wilayah tersebut.
Selama masa kampanye dan masa kepresidenannya, Trump secara konsisten mengekspresikan keinginan untuk menguasai pasar minyak Iran dan mengendalikan Selat Hormuz sebagai pintu gerbang utama perdagangan minyak dunia. Ia bahkan pernah menyarankan negara-negara sekutu untuk membeli minyak langsung dari AS ketika militer AS melakukan serangan udara ke fasilitas energi Iran.
Situasi di Lapangan: Dua Kapal yang Melintas
Data dari layanan pelacak kapal MarineTraffic mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker berhasil melintasi Selat Hormuz setelah gencatan senjata diumumkan. Kapal pertama adalah NJ Earth, sebuah kapal pengangkut minyak berregistrasi Yunani, sementara kapal kedua adalah Daytona Beach, yang berbendera Liberia. Kedua kapal tersebut menjadi yang pertama melintas sejak pernyataan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Keberhasilan kedua kapal ini tidak menghilangkan kritik Trump, yang menilai bahwa pembatasan tersebut masih jauh dari kesepakatan penuh yang diharapkan. Ia menuduh Iran berusaha memperkecil peran Amerika Serikat dalam pengaturan aliran minyak global, sekaligus mengancam stabilitas pasar energi.
Dinamika Regional dan Dampak Ekonomi
Ketegangan di Selat Hormuz memiliki implikasi luas bagi pasar energi dunia. Selat ini merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, melalui mana sekitar satu pertiga suplai minyak bumi global melintasi setiap harinya. Setiap gangguan dapat memicu lonjakan harga minyak, mempengaruhi biaya transportasi, dan menambah ketidakpastian bagi negara-negara importir energi.
Selain itu, Israel pada hari yang sama melancarkan serangan ke Lebanon, yang dianggap oleh Iran sebagai pelanggaran gencatan. Iran menanggapi dengan menuduh AS melanggar tiga poin utama gencatan: serangan ke Lebanon, peluncuran rudal ke wilayah udara Iran, dan penolakan hak pengayaan uranium Iran. Ancaman Iran untuk menutup kembali Selat Hormuz kembali menjadi topik hangat di antara analis keamanan maritim.
Strategi Politik Trump di Tengah Krisis
Meski tidak lagi memegang jabatan resmi, pernyataan Trump tetap memiliki pengaruh signifikan karena jaringan pendukungnya yang luas di dalam Partai Republik dan media konservatif. Dengan menyoroti kegagalan Iran dalam memenuhi “janji” gencatan, Trump berusaha memperkuat posisinya sebagai tokoh utama dalam debat kebijakan luar negeri AS, terutama menjelang pemilihan umum berikutnya.
Strategi ini juga mencerminkan pola lama Trump yang mengaitkan keberhasilan politiknya dengan kekuatan militer dan kontrol atas sumber daya energi. Kritik terhadap kebijakan luar negeri Iran dipadukan dengan seruan untuk meningkatkan kehadiran militer AS di wilayah tersebut, meski secara resmi AS belum mengumumkan penambahan pasukan di kawasan Teluk.
Secara keseluruhan, pernyataan Trump menambah lapisan kompleksitas dalam dinamika geopolitik Selat Hormuz, menyoroti persaingan antara kepentingan energi, keamanan maritim, dan ambisi politik pribadi. Dengan hanya dua kapal yang diizinkan melintas, pertanyaan besar tetap terbuka: apakah Iran akan melonggarkan kebijakannya ataukah tekanan internasional, termasuk dari pihak AS, akan memaksa pembukaan penuh kembali jalur tersebut?
Jika situasi tidak segera stabil, dunia energi dapat menyaksikan fluktuasi harga yang lebih tajam, serta peningkatan risiko konflik militer yang melibatkan negara-negara besar. Pada akhirnya, keputusan Iran dan respons komunitas internasional akan menentukan apakah Selat Hormuz kembali menjadi jalur perdagangan bebas atau tetap berada di bawah bayang‑bayang ketegangan geopolitik.
