Keuangan.id – 16 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial pada Rabu (15/4/2026) lewat platform media sosialnya, Truth Social, bahwa ia telah membuka Selat Hormuz secara permanen setelah operasi pembersihan ranjau laut yang dipimpin angkatan laut AS. Trump menegaskan bahwa langkah tersebut tidak hanya menguntungkan dunia, tetapi juga mendapat sambutan positif dari Tiongkok, yang menurutnya “sangat senang” dengan keputusan Washington.
Operasi Pembersihan Ranjau Laut
Sejak akhir pekan sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) meluncurkan misi pembersihan ranjau laut di perairan Selat Hormuz. Operasi ini melibatkan lebih dari 15 kapal perang, termasuk kapal perusak, serta dua kapal perang yang melakukan misi kebebasan navigasi. Tujuannya adalah menciptakan jalur pelayaran yang aman bagi kapal komersial dan mengurangi ancaman serangan dari Iran, yang sempat menurunkan lalu lintas kapal di selat tersebut sejak konflik meluas pada akhir Februari.
Blokade Laut Terhadap Iran
Sementara operasi pembersihan berlangsung, AS tetap memberlakukan blokade laut yang menargetkan pelabuhan-pelabuhan Iran. Pejabat senior pemerintahan Amerika menegaskan bahwa blokade tersebut “sepenuhnya berlaku dan berhasil”, menghentikan semua kapal yang berangkat atau kembali ke pelabuhan Iran. Namun, kapal-kapal yang tidak terkait dengan Iran tetap diizinkan melintasi Selat Hormuz. Menurut laporan militer, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade sejak penerapannya pada Senin (13/4/2026).
Arus Pelayaran Mulai Pulih
Meski blokade masih berlangsung, data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 20 kapal komersial berhasil melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Kapal-kapal tersebut meliputi kargo, kontainer, dan tanker minyak, menandakan adanya tanda-tanda pemulihan arus perdagangan global. Para kapten kapal melaporkan bahwa mereka tetap waspada, bahkan beberapa menonaktifkan transponder untuk mengurangi risiko menjadi sasaran serangan.
Reaksi China dan Klaim Senjata
Trump menambahkan bahwa Tiongkok telah menyetujui untuk tidak lagi mengirimkan senjata ke Tehran sebagai imbalan atas pembukaan selat. Ia juga menyebutkan bahwa Presiden China Xi Jinping akan menyambutnya dengan “pelukan hangat” saat kunjungan kenegaraan Trump ke Beijing beberapa minggu ke depan. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas China mengenai pernyataan tersebut, sehingga klaim tersebut tetap bersifat sepihak.
Implikasi Ekonomi dan Geopolitik
- Keamanan Energi: Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Pembukaan permanen selat dapat menstabilkan harga minyak dan mengurangi ketegangan pasar.
- Tekanan pada Iran: Blokade laut menambah beban ekonomi pada Tehran, yang selama ini mengandalkan ekspor minyak melalui selat tersebut.
- Hubungan AS‑China: Jika klaim Trump tentang kesepakatan senjata terbukti, hal ini dapat menandai perubahan signifikan dalam dinamika kekuasaan di kawasan Timur Tengah.
Para analis geopolitik memperingatkan bahwa retorika “pembukaan permanen” tanpa dukungan internasional dapat meningkatkan ketidakpastian. Sementara itu, operasi pembersihan ranjau laut menambah kompleksitas operasional, mengingat risiko kecelakaan dan dampak lingkungan.
Secara keseluruhan, langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah AS menandai eskalasi kebijakan militer dan diplomatik yang belum sepenuhnya teruji. Dampaknya terhadap aliran perdagangan, stabilitas regional, serta hubungan dengan negara besar seperti China masih menjadi pertanyaan yang membutuhkan pemantauan lebih lanjut.
