Keuangan.id – 28 April 2026 | Film Michael yang tayang pada 24 April 2026 menjadi sorotan utama dunia hiburan setelah mengemas kisah hidup sang Raja Pop dengan visual megah dan soundtrack yang tak lekang oleh waktu. Meski memperoleh rating penonton hingga 97 persen, film ini menuai perdebatan tajam di antara kritikus dan keluarga terdekat Michael Jackson. Berikut ulasan komprehensif yang mengupas berbagai aspek penting dari Film Michael, mulai dari pilihan lagu, pemotongan adegan sensitif, hingga rencana sekuel yang berpotensi menambah kedalaman tragedi sang ikon.
Soundtrack Ikonik yang Menghidupkan Era
Album resmi yang dirilis bersamaan dengan Film Michael berjudul Michael: Songs from the Motion Picture. Album ini memuat 13 trek utama yang mencakup tiga fase karier Michael Jackson: era awal bersama The Jackson 5, masa transisi bersama The Jacksons, hingga puncak solo yang menghasilkan hits abadi. Di antara judul-judul yang muncul terdapat “I Want You Back”, “Never Can Say Goodbye”, “Billie Jean”, “Beat It”, dan tentu saja “Thriller”. Selain itu, film menampilkan kilas balik singkat dari lagu-lagu kurang dikenal seperti “Big Boy” dan “The Place Hotel”, yang hanya diperdengarkan sebagai latar suasana.
Pemilihan lagu tidak hanya sekadar nostalgia; setiap potongan musik dipadukan dengan adegan yang menekankan momen penting dalam perjalanan karier Jackson, sehingga penonton dapat merasakan evolusi musikalnya secara emosional.
Kontroversi Pemotongan Adegan
Salah satu bagian paling diperdebatkan adalah penghilangan adegan yang menampilkan Diana Ross, yang diperankan oleh Kat Graham. Produser menjelaskan bahwa pertimbangan hukum dan hak cipta menghalangi penayangan adegan tersebut dalam versi final. Selain itu, kisah hubungan Michael dengan adik-adiknya, khususnya Janet dan Paris Jackson, juga mengalami pemotongan signifikan. Paris Jackson mengkritik film karena menampilkan narasi yang “tidak akurat” dan mengabaikan tuduhan pelecehan seksual yang pernah menggelayuti sang bintang sebelum kematiannya pada 2009.
Keputusan untuk menyingkirkan isu-isu sensitif tersebut menuai protes dari para penggemar dan kritikus yang menilai bahwa film berusaha menyajikan versi yang terlalu romantis dan tereduksi dari realitas kelam sang artis.
Potensi Sekuel yang Menjanjikan
Lionsgate bersama Universal Pictures serta produser Graham King dan sutradara Antoine Fuqua telah menyatakan keseriusan mereka untuk mengembangkan kelanjutan cerita. Naskah sekuel yang ditulis oleh John Logan masih dalam tahap penyelesaian, namun pihak studio menegaskan bahwa keputusan pembuatan film kedua tidak semata‑mata bergantung pada angka box office, melainkan pada respon emosional penonton terhadap Film Michael.
Adam Fogelson, kepala divisi film Lionsgate, menambahkan bahwa jika penonton menginginkan lebih banyak, studio siap memproduksi sekuel secepat mungkin. Hal ini membuka peluang untuk menggali bagian kehidupan Michael yang belum terangkat, termasuk perjuangannya menghadapi tuduhan dan dinamika keluarga yang lebih kompleks.
Jaafar Jackson: Dari Keraguan Menjadi Pusat Sorotan
Peran utama sebagai Michael Jackson dipegang oleh keponakan sang legenda, Jaafar Jackson. Pada awalnya, Jaafar ragu untuk terjun ke dunia akting. Sutradara Antoine Fuqua mengungkapkan bahwa keputusan casting didasarkan pada kemiripan fisik yang luar biasa, namun proses audisi melibatkan tes improvisasi tanpa naskah. Jaafar berhasil meniru gaya bicara dan aura Michael sehingga kru bahkan meneteskan air mata saat melihat performanya.
Setelah mendapatkan peran, Jaafar menjalani pelatihan intensif, mengubah rumahnya menjadi pusat riset pribadi, dan mendalami gerakan tari serta vokal sang paman. Komitmennya mendapatkan pujian luas, menjadikan penampilannya sebagai salah satu faktor utama kesuksesan Film Michael.
Respon Penonton, Box Office, dan Dampak Budaya
Meski kritikus memberikan penilaian kurang positif, Film Michael mencatat pendapatan Rp 671 miliar pada hari pertama penayangan, menjadikannya film biopik musik terlaris pada minggu pembuka. Rating penonton yang mencapai 97 persen mencerminkan antusiasme fans global yang ingin menghidupkan kembali kenangan musik dan tarian sang Raja Pop.
Keberhasilan komersial ini menegaskan bahwa meskipun film menghindari bahasan kontroversi, publik tetap terhubung secara emosional dengan musik dan estetika visual yang ditawarkan. Namun, keberadaan elemen yang dihilangkan menimbulkan pertanyaan tentang keutuhan narasi dan tanggung jawab moral pembuat film dalam menggambarkan fakta sejarah.
Keseluruhan, Film Michael tidak hanya menjadi wadah nostalgia, melainkan juga cermin kompleksitas kehidupan Michael Jackson yang sarat tragedi, kontroversi, dan kejeniusan musikal. Dengan rencana sekuel yang masih dalam pengembangan, kisah sang ikon kemungkinan akan terus berkembang, menambah lapisan baru pada narasi yang sudah penuh liku.
