Keuangan.id – 14 April 2026 | Sabtu, 11 April 2026, suasana rekreasi yang seharusnya menyenangkan berbalik menjadi duka mendalam di Danau Toba, Sumatera Utara. Seorang mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas (Unika) Medan, Christopher Rustam Muda Dua, berusia 21 tahun, dilaporkan tenggelam di perairan Air Terjun Situmurun setelah mengalami kram pada kakinya saat berenang bersama rombongan teman-temannya.
Kronologi Kejadian
Pada pukul 12.00 WIB, rombongan sekitar 60 orang mahasiswa beserta pendamping Romo R.D Ngadiono tiba di lokasi menggunakan kapal penumpang KM Sibole‑Bole 01 Silima Lombu. Kelompok ini baru saja menyelesaikan kegiatan rekoleksi Frater di Pulau Samosir dan berencana melepas penat dengan berenang di sekitar jatuhan air yang terkenal di Situmurun.
Setelah menurunkan peralatan, Christopher bersama beberapa temannya melompat ke dalam air. Selama kurang lebih dua puluh menit, mereka menikmati suasana air terjun yang sejuk. Namun, tiba‑tiba Christopher mengeluh kram hebat pada kakinya dan kehilangan kemampuan mengapung. Rekan‑rekannya, Mario, Patulosa, dan Julhendro langsung mengambil pelampung dari kapal dan berusaha menolong, namun korban sudah menghilang di kedalaman Danau Toba.
Upaya Pencarian dan Penyelamatan
Plt Kasi Humas Ipda Khairuddin dari Polres Toba mengonfirmasi bahwa tim Polsek Lumban Julu dan Basarnas Ajibata dikerahkan segera setelah laporan diterima. Tim Basarnas melakukan beberapa kali penyelaman, namun kondisi air yang sangat keruh menghambat visibilitas di dasar. Kedalaman pencarian mencapai 40 meter, namun dasar danau masih belum dapat dijangkau secara optimal.
Pada hari pertama, pencarian dihentikan sementara menjelang malam karena faktor keamanan dan minimnya cahaya. Pada hari kedua, 12 April 2026, tim SAR kembali beroperasi dengan peralatan lebih lengkap, termasuk alat pendeteksi tubuh dalam air dan Rigid Buoyancy Boat (RBB) untuk penyisiran permukaan. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, menjelaskan bahwa tim juga memanfaatkan teknologi Aqua Eye untuk mendeteksi objek di bawah permukaan.
Cuaca yang mulai mendung pada sore hari menambah tantangan, sehingga operasi pencarian dihentikan kembali pada pukul 17.00 WIB. Pada 13 April 2026, tim SAR melanjutkan pencarian sejak pukul 08.00 WIB dengan harapan kondisi cuaca lebih bersahabat.
Pernyataan Pihak Berwenang
Khairuddin menekankan bahwa kendala utama pencarian adalah kejernihan air yang terbatas, sehingga jarak pandang di dasar danau sangat pendek. Ia menambahkan bahwa seluruh upaya tetap dilakukan sesuai prosedur operasi SAR, dengan tetap mengutamakan keselamatan personel.
Hery Marantika mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar tidak memaksakan diri berenang di area yang berbahaya tanpa kemampuan berenang yang memadai. “Basarnas Medan terus mengimbau agar pengunjung selalu mengutamakan keselamatan, khususnya di objek wisata alam seperti air terjun dan danau,” ujarnya.
Reaksi dan Tindakan Lanjutan
Keluarga Christopher dan teman‑temannya menyampaikan keprihatinan mendalam serta berharap pencarian dapat menemukan korban secepat mungkin. Masyarakat setempat juga diminta untuk memberikan informasi yang dapat membantu proses pencarian.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa pencarian akan terus berlanjut hingga korban ditemukan atau hingga kondisi memungkinkan. Sementara itu, para pengelola objek wisata Air Terjun Situmurun diharapkan meninjau kembali prosedur keamanan, termasuk penyediaan pelampung dan petugas pengawas yang lebih intensif.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi semua yang berkunjung ke kawasan wisata alam, terutama yang melibatkan aktivitas air. Kecelakaan yang menimpa Christopher menegaskan pentingnya persiapan fisik, pengetahuan tentang kondisi perairan, serta kepatuhan pada aturan keselamatan.
Dengan upaya kolaboratif antara aparat keamanan, Basarnas, dan masyarakat, diharapkan pencarian dapat memberikan kepastian bagi keluarga korban dan menjadi pelajaran berharga bagi pengelolaan wisata alam di masa depan.
