Keuangan.id – 15 April 2026 | Proyek Jalan Tol Getaci yang menghubungkan Gedebage, Tasikmalaya, dan Cilacap kembali menjadi sorotan publik setelah munculnya serangkaian laporan tentang ketidakpastian yang menghambat pelaksanaannya. Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, menilai bahwa informasi yang beredar saat ini sangat kontradiktif, mulai dari kabar proyek dibatalkan hingga ditunda, sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan calon investor.
Ketidakpastian Membuat Investor Menjauh
Diky Candra menegaskan bahwa hingga kini belum ada pembahasan mendalam antara pemerintah daerah dengan pemerintah provinsi mengenai langkah konkret untuk menanggapi situasi. Semua pihak masih menunggu kepastian kebijakan dari pemerintah pusat. “Ada yang bilang batal, ada juga yang menyebut ditunda. Kondisi ini membuat orang enggan berinvestasi,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers.
Menurut Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, proyek Tol Getaci masih belum berhasil menarik minat investor utama karena proyeksi trafik yang dianggap kurang menjanjikan. Tanpa estimasi volume kendaraan yang kuat, risiko pengembalian modal menjadi tinggi, sehingga Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) enggan mengajukan tawaran.
Implikasi Ekonomi Regional
Keberadaan tol ini dianggap krusial bagi percepatan pertumbuhan ekonomi di Tasikmalaya dan sekitarnya. Diky Candra menjelaskan bahwa akses transportasi yang lancar akan meningkatkan mobilitas barang dan orang, mempercepat perputaran ekonomi, serta membuka peluang investasi di sektor industri, pariwisata, dan agribisnis.
Namun, tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, potensi tersebut tetap tertahan. “Kalau akses transportasi lancar, orang akan datang, dan perputaran ekonomi ikut meningkat,” kata Diky.
Masalah yang Lebih Luas di Sektor Tol Nasional
Masalah pada Tol Getaci tidak bersifat terisolasi. Sebuah laporan mengungkapkan bahwa empat Proyek Strategis Nasional (PSN) di sektor jalan tol mengalami kendala serupa, termasuk proyek di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali. Penyebab utama meliputi ketidakpastian pengembalian modal, tingginya biaya konstruksi, serta beban bunga pinjaman yang berat.
Asosiasi Tol Indonesia (ATI) menambahkan bahwa banyak BUJT mengalami tekanan finansial yang signifikan. Lalu lintas harian rata‑rata (LHR) pada beberapa ruas baru jauh di bawah proyeksi awal, memperpanjang masa pengembalian investasi di atas batas kontrak konsesi.
Respons Pemerintah Pusat dan Daerah
Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan bahwa pemerintah kini lebih selektif dalam menentukan prioritas infrastruktur, dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran dan potensi trafik. Ia menegaskan bahwa dukungan pemerintah berupa jaminan atau bantuan konstruksi sangat diperlukan untuk mengurangi risiko kebangkrutan BUJT.
Sementara itu, pemerintah daerah Tasikmalaya dan provinsi Jawa Barat terus menunggu arahan definitif dari Kementerian. Tanpa kepastian kebijakan, proses lelang dan pendanaan tetap terhenti, memperpanjang masa penundaan proyek.
Harapan Masyarakat Lokal
Di Kabupaten Garut, yang juga berada dalam koridor proyek Tol Getaci, 37 desa dan 7 kecamatan menunggu perkembangan lelang yang terhambat. Masyarakat mengkhawatirkan dampak negatif pada akses pasar dan peluang kerja bila proyek tidak segera dilanjutkan.
Keberlangsungan tol ini menjadi harapan bagi ribuan penduduk di wilayah tersebut, yang mengandalkan peningkatan konektivitas untuk mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan pasar ekonomi yang lebih luas.
Langkah Selanjutnya
- Penetapan kebijakan definitif dari pemerintah pusat mengenai skema pembiayaan dan jaminan investasi.
- Revisi proyeksi trafik dengan melibatkan data terbaru serta studi kelayakan yang independen.
- Peningkatan koordinasi antara pemerintah daerah, provinsi, dan Kementerian PU untuk mempercepat proses lelang.
- Penyediaan insentif fiskal atau non‑fiskal bagi investor potensial, termasuk kemudahan perizinan dan garansi pendapatan.
Jika langkah‑langkah tersebut dapat diimplementasikan, proyek Tol Getaci berpotensi menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi regional yang signifikan, sekaligus mengurangi beban kemacetan pada jalur konvensional.
Namun, tanpa kepastian kebijakan dan dukungan finansial yang kuat, risiko proyek tetap tinggi, menambah daftar proyek infrastruktur strategis yang berpotensi mangkrak di Indonesia.
Kesimpulannya, Tol Getaci berada pada persimpangan antara kebutuhan pembangunan wilayah dan tantangan investasi. Penyelesaian masalah ini membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta untuk memastikan proyek dapat selesai tepat waktu dan memberikan manfaat yang diharapkan bagi masyarakat.
