Keuangan.id – 26 April 2026 | Saham BUMI (PT Bumi Resources Tbk) mengalami penurunan tajam sebesar 12,90% dalam satu minggu terakhir, menurunkan harga penutupan ke level Rp216 per lembar. Penurunan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai valuasi tinggi BUMI yang selama ini menjadi sorotan para analis.
Faktor-faktor yang Menekan Harga
- Valuasi Premium: Harga saham saat ini mencerminkan PER (Price‑Earnings Ratio) sekitar 60 kali, jauh di atas rata‑rata industri pertambangan.
- Kinerja Keuangan: Laba bersih kuartal terakhir menunjukkan tekanan margin akibat penurunan harga komoditas dan biaya operasional yang tinggi.
- Sentimen Pasar: Investor global menurunkan eksposur pada sektor energi, memperparah volatilitas pada saham pertambangan.
Data Keuangan Terbaru
| Item | Q4 2023 | Q1 2024 |
|---|---|---|
| Revenue | Rp8,2 triliun | Rp7,9 triliun |
| Laba Bersih | Rp1,1 triliun | Rp0,9 triliun |
| EBITDA | Rp1,8 triliun | Rp1,6 triliun |
| PER | 58x | 60x |
Proyeksi Laba 2025
Analisis internal perusahaan memperkirakan peningkatan laba bersih pada tahun 2025 sebesar 35% hingga mencapai sekitar Rp1,5 triliun, didorong oleh kenaikan harga batu bara dan efisiensi biaya operasional. Namun, proyeksi ini masih sangat bergantung pada stabilitas harga komoditas global dan kebijakan regulasi lingkungan.
Apakah Valuasi Tinggi BUMI Masih Terbukti?
Para analis menilai bahwa valuasi tinggi BUMI kini berada di ujian nyata. Jika harga komoditas kembali menguat dan margin operasional dapat dipulihkan, PER tinggi dapat terjaga. Sebaliknya, kelanjutan tekanan biaya atau penurunan demand dapat memaksa harga saham turun lebih jauh, menurunkan PER ke level yang lebih wajar.
Investor yang mempertimbangkan posisi di BUMI disarankan untuk memantau perkembangan harga batu bara internasional, kebijakan energi Indonesia, serta laporan keuangan kuartalan berikutnya.
