Berita  

Tele‑Dentistry Revolusi Perawatan Gigi Anak: Program Singapore Turunkan Risiko Karies hingga 80%

Tele‑Dentistry Revolusi Perawatan Gigi Anak: Program Singapore Turunkan Risiko Karies hingga 80%
Tele‑Dentistry Revolusi Perawatan Gigi Anak: Program Singapore Turunkan Risiko Karies hingga 80%

Keuangan.id – 22 April 2026 | Sejak diluncurkan pada Januari 2023, program tele‑dentistry HEADS‑UPP telah menjadi titik balik bagi ribuan anak pra‑sekolah dari keluarga berpenghasilan rendah di Singapura. Inisiatif yang digandengkan antara National University Hospital (NUH), Universitas Nasional Singapura (NUS), dan lembaga sosial Care Corner Singapore serta PCF Sparkletots Preschool, menggabungkan penilaian risiko perilaku dengan pemeriksaan gambar intraoral melalui foto mulut anak.

Metode dan Pelaksanaan

Tim perawat dan petugas manajemen kasus mengunjungi 17 prasekolah Sparkletots di wilayah barat Singapura untuk mengambil foto intraoral serta mendistribusikan kuesioner kepada orang tua. Kuesioner menanyakan kebiasaan menyikat gigi, pola makan, frekuensi kunjungan ke dokter gigi, serta riwayat karies dalam keluarga. Setiap foto dan kuesioner kemudian dievaluasi oleh dokter gigi anak dari Fakultas Kedokteran Gigi NUS yang menilai keberadaan plak, peradangan gusi, dan tanda‑tanda karies.

Hasil evaluasi dituangkan dalam laporan pribadi yang dilengkapi foto gigi anak, penilaian tingkat risiko, serta rekomendasi tindakan lanjutan. Laporan tersebut disampaikan kembali kepada orang tua dalam sesi konseling singkat, menekankan langkah pencegahan dan pentingnya mengikuti rekomendasi klinis.

Data Dampak Awal

Indikator Sebelum Program Setelah Program
Persentase anak dengan risiko karies sedang‑tinggi 93,3 %
Anak dengan gusi meradang 30,7 %
Anak dengan kebersihan mulut buruk 54,9 %
Penanganan spesialis dalam 4‑6 bulan 13,3 % 57,5 %
Follow‑up ke klinik gigi primer setidaknya sekali setahun 28,9 % 51,0 %

Data menunjukkan peningkatan signifikan dalam penanganan dini dan kepatuhan terhadap rekomendasi perawatan. Dari 355 anak yang terdaftar hingga 20 Januari 2026, lebih dari setengah orang tua melaporkan perubahan perilaku, termasuk peningkatan frekuensi menyikat gigi dan penjadwalan kunjungan ke dokter gigi.

Testimoni dan Cerita Nyata

Rhianne Lee, anak berusia dua tahun yang dinilai berisiko tinggi, berhasil menurunkan tingkat peradangan gusi berkat arahan praktis yang diberikan kepada neneknya, Peggy Tan. “Meskipun Rhianne masih mengeluh saat menggosok gigi, kami berusaha membuat prosesnya lebih nyaman,” ujar Peggy.

Associate Professor Catherine Hong menekankan bahwa “menyediakan penilaian gigi di lingkungan anak memungkinkan identifikasi risiko lebih awal, terutama bagi keluarga yang menghadapi kendala akses ke layanan kesehatan.”

Rencana Pengembangan

Tim HEADS‑UPP menargetkan penambahan 300 anak lagi dalam tiga tahun ke depan. Salah satu inovasi yang direncanakan adalah integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk otomatisasi peninjauan foto intraoral, analisis jawaban kuesioner, dan pembuatan laporan kesehatan mulut. Menurut Adjunct Associate Professor Chong Shang Chee, penggunaan AI akan mempercepat proses skrining, menurunkan beban kerja manual, dan memperluas jangkauan program ke lebih banyak prasekolah.

Dengan dukungan dana Kementerian Kesehatan Singapura, program ini diharapkan dapat menjadi model nasional bagi intervensi kesehatan mulut berbasis tele‑dentistry, mengurangi beban karies anak serta menurunkan biaya perawatan jangka panjang.

Kesimpulannya, tele‑dentistry tidak hanya meningkatkan deteksi dini karies pada anak-anak berpendapatan rendah, tetapi juga memperkuat keterlibatan orang tua dalam menjaga kesehatan mulut, membuka jalan bagi sistem perawatan gigi yang lebih inklusif dan efisien.

Exit mobile version