Keuangan.id – 30 Maret 2026 | Konflik yang meluas di Timur Tengah pada kuartal kedua 2026 menimbulkan efek domino pada sejumlah sektor ekonomi Indonesia, terutama industri tekstil. Kenaikan harga minyak mentah dan gangguan pasokan energi memicu lonjakan biaya bahan baku polyester hingga 15 persen, memaksa pengusaha tekstil menyesuaikan strategi produksi dan menahan ekspansi.
Lonjakan Harga Bahan Baku Polyester
Data dari portal berita MSN mengindikasikan bahwa harga polyester, bahan utama dalam pembuatan pakaian dan produk tekstil lainnya, meningkat tajam setelah konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu ketegangan geopolitik. Kenaikan harga mencapai 15 persen dibandingkan kuartal pertama 2026, dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah yang sekaligus meningkatkan biaya transportasi dan produksi kimia dasar.
Para produsen tekstil, terutama yang beroperasi dengan margin tipis, melaporkan tekanan pada profitabilitas. Beberapa perusahaan besar mengumumkan peninjauan kembali kontrak pasokan, pencarian alternatif bahan baku, dan penyesuaian harga jual kepada konsumen.
Pengaruh Terhadap Pasar Modal dan IPO
Ketidakpastian yang diakibatkan oleh konflik juga tercermin dalam pasar modal. Pada kuartal pertama 2026, tidak ada perusahaan baru yang melakukan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut laporan NERACA Jakarta, sikap “wait and see” menjadi pola umum di kalangan pelaku usaha, baik karena dinamika global maupun faktor domestik yang belum menentu.
Meski demikian, pipeline IPO tetap menunjukkan potensi. BEI mencatat ada 12 perusahaan dalam proses pencatatan, mayoritas skala besar dengan aset di atas Rp250 miliar. Sektor consumer non‑cyclicals mendominasi dengan tiga kandidat, diikuti oleh healthcare, infrastruktur, dan teknologi masing‑masing dua perusahaan. Namun, sektor‑sektor tradisional tekstil dan bahan dasar belum masuk dalam pipeline, menandakan keraguan investor terhadap prospek jangka pendek industri ini.
Contoh konkret adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk yang menjadwalkan IPO pada April 2026, namun menghadapi tekanan pasar serupa. Di luar negeri, konflik di Timur Tengah turut menurunkan minat investor di pasar IPO India, yang selama ini menjadi salah satu yang paling aktif secara global.
Dampak Harga Minyak pada Industri Tekstil
Kenaikan harga minyak mentah, yang dilaporkan oleh MSN, menambah beban biaya produksi. Harga minyak naik di awal pekan ini setelah ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. Kenaikan ini tidak hanya mempengaruhi transportasi bahan baku, tetapi juga biaya energi pabrik, yang secara keseluruhan menambah tekanan biaya operasional bagi manufaktur tekstil.
Strategi Pengusaha Tekstil Menghadapi Ketidakpastian
- Diversifikasi sumber bahan baku: Beberapa perusahaan beralih ke pemasok polyester dari negara Asia Tenggara yang lebih stabil.
- Penyesuaian harga jual: Untuk melindungi margin, sebagian produsen menaikkan harga produk akhir, meski harus mempertimbangkan daya beli konsumen.
- Peningkatan efisiensi energi: Investasi pada teknologi hemat energi dan penggunaan energi terbarukan mulai dipertimbangkan.
- Penundaan ekspansi: Rencana pembukaan pabrik baru atau peningkatan kapasitas produksi ditunda hingga pasar menunjukkan tanda-tanda stabilitas.
Para pengusaha juga memantau perkembangan kebijakan pemerintah terkait subsidi energi dan insentif untuk bahan baku alternatif, berharap dukungan kebijakan dapat meredam dampak volatilitas harga global.
Secara keseluruhan, konflik Timur Tengah menguji ketahanan industri tekstil Indonesia. Kenaikan biaya polyester, harga minyak, dan ketidakpastian pasar modal menuntut adaptasi cepat serta strategi mitigasi risiko yang terukur. Pengusaha yang mampu menyesuaikan rantai pasokan, mengoptimalkan biaya, dan menunggu momentum pasar yang lebih stabil diperkirakan akan tetap kompetitif pada paruh kedua 2026.
