Keuangan.id – 26 April 2026 | Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dalam beberapa tahun terakhir menambah beban biaya operasional bagi perusahaan logistik di seluruh Indonesia. Tekanan tersebut memaksa pelaku industri mencari alternatif yang lebih hemat dan ramah lingkungan.
Motivasi utama beralih ke kendaraan listrik
Penggunaan kendaraan listrik (EV) menawarkan potensi penghematan bahan bakar hingga 70% dibandingkan kendaraan konvensional. Selain itu, EV menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah, sehingga selaras dengan kebijakan pemerintah tentang pengurangan karbon.
Hambatan dalam adopsi EV
Meski menjanjikan, transisi ke EV tidak tanpa tantangan. Berikut beberapa kendala yang sering dihadapi:
- Investasi awal yang tinggi: Harga beli kendaraan listrik masih lebih mahal karena biaya baterai.
- Ketersediaan infrastruktur pengisian: Stasiun pengisian masih terbatas, khususnya di daerah terpencil.
- Ketahanan baterai: Penurunan kapasitas baterai seiring waktu dapat menambah biaya perawatan.
- Regulasi dan standar: Belum ada standar nasional yang konsisten untuk pengisian cepat dan keselamatan EV.
Analisis biaya operasional
Berikut perbandingan perkiraan biaya operasional tahunan antara truk diesel dan truk listrik dengan kapasitas beban serupa.
| Komponen | Truk Diesel | Truk Listrik |
|---|---|---|
| Biaya bahan bakar/energi | Rp 150 juta | Rp 45 juta |
| Perawatan rutin | Rp 30 juta | Rp 12 juta |
| Depresiasi | Rp 80 juta | Rp 100 juta |
| Total | Rp 260 juta | Rp 157 juta |
Walaupun depresiasi truk listrik lebih tinggi, total biaya operasional tetap lebih rendah, memberikan margin keuntungan yang lebih baik bagi perusahaan logistik.
Strategi mengoptimalkan adopsi EV
Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:
- Menggandeng pemerintah untuk subsidi atau insentif pajak.
- Berinvestasi bersama dalam jaringan stasiun pengisian di kawasan industri.
- Melakukan pilot project pada rute jarak pendek untuk menguji kinerja baterai.
- Menjalin kemitraan dengan produsen baterai untuk program daur ulang.
Dengan mengatasi hambatan tersebut, adopsi EV dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menurunkan biaya operasional dan meningkatkan keberlanjutan bisnis logistik di Indonesia.
