Keuangan.id – 05 Mei 2026 | Singapura, 4 Mei 2026 – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menggelar pertemuan strategis dengan sejumlah investor internasional di pusat keuangan global tersebut. Agenda utama diskusi berfokus pada upaya memperkuat stabilitas rupiah di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Perry menekankan bahwa Bank Indonesia telah mengadopsi sebuah bauran kebijakan moneter terintegrasi (integrated monetary policy mix) untuk memitigasi risiko eksternal sekaligus menjaga inflasi tetap dalam kisaran target 2,5 % ± 1 %. Kebijakan tersebut dirancang untuk beroperasi secara selaras dengan kebijakan fiskal, sehingga pertumbuhan ekonomi nasional dapat tetap solid meski menghadapi tekanan luar negeri.
Pilar-Pilar Kebijakan Moneter Terbaru
Dalam penjelasannya, Perry merinci tiga pilar utama yang menjadi landasan strategi kebijakan moneter saat ini:
- Kebijakan suku bunga – Fokus pada stabilitas nilai tukar rupiah serta penyesuaian suku bunga pasar melalui instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk meningkatkan daya tarik aset domestik.
- Intervensi nilai tukar – Bank Indonesia melakukan operasi pasar valuta asing secara rutin guna mencegah pelemahan rupiah yang berpotensi memicu kenaikan harga barang impor.
- Pengelolaan likuiditas – Pengawasan ketat terhadap likuiditas domestik memastikan kecukupan sistem keuangan nasional dan menghindari gejolak pasar.
Ketiga instrumen tersebut dijalankan secara simultan dan saling melengkapi, mencerminkan pendekatan yang fleksibel serta adaptif terhadap perubahan cepat di pasar global.
Sinergi Moneter‑Fiskal dan Proyeksi Ekonomi
Koordinasi erat antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Melalui sinergi tersebut, inflasi pada tahun 2026 diproyeksikan tetap terkendali pada kisaran 2,5 % ± 1 %, sementara pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan berada di antara 4,9 % hingga 5,7 %.
Proyeksi pertumbuhan tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi domestik yang kuat, meski terjadi fluktuasi harga komoditas dan ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah yang berdampak pada pasar energi global.
Kebijakan Makroprudensial dan Insentif Kredit
Selain kebijakan moneter, Bank Indonesia memperkuat kerangka makroprudensial dengan memberikan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor‑sektor prioritas, seperti infrastruktur, energi terbarukan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Langkah ini diharapkan meningkatkan aliran kredit produktif tanpa menimbulkan risiko kelebihan likuiditas.
Digitalisasi Sistem Pembayaran
Transformasi digital menjadi agenda penting dalam rangka meningkatkan inklusi keuangan. Bank Indonesia mempercepat adopsi QRIS, mengembangkan transaksi lintas negara berbasis mata uang lokal (Local Currency Transactions), serta memperkuat infrastruktur pembayaran ritel. Inisiatif tersebut tidak hanya mempermudah transaksi konsumen, tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia.
Investor yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan apresiasi terhadap langkah-langkah terkoordinasi yang diambil oleh otoritas moneter dan fiskal. Mereka menilai bahwa kebijakan terintegrasi serta komitmen pada stabilitas nilai tukar memberikan sinyal positif bagi aliran modal masuk.
Secara keseluruhan, pertemuan di Singapura menegaskan tekad Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan moneter yang adaptif, sinergi fiskal yang kuat, serta inovasi digital yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
