Keuangan.id – 25 April 2026 | Penelusuran intensif drone militer Iran oleh pasukan pertahanan Amerika Serikat (AS) mengungkapkan beban berat yang harus ditanggung sistem persenjataan Barat. Konflik tujuh pekan antara AS, sekutunya, dan Iran telah menggerus persediaan rudal strategis hingga mencapai titik kritis, menimbulkan pertanyaan serius mengenai kesiapan pertahanan global.
Penggunaan Rudal Hingga Setengah Terpakai
Analisis yang dirilis pada 21 April 2026 oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa operasi tempur di wilayah Timur Tengah telah menghabiskan sekitar 45% persediaan Precision Strike Missile (PrSM), hampir 50% pencegat udara Patriot, dan lebih dari setengah stok Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Data ini sejalan dengan penilaian rahasia Pentagon yang kemudian diungkap melalui laporan media.
Selain sistem pertahanan udara, penggunaan rudal jarak jauh juga mengalami penurunan signifikan. Sekitar 30% persediaan rudal jelajah Tomahawk dan lebih dari 20% dari Joint Air-to-Surface Standoff Missiles (JASSM) telah dikeluarkan. Rudal pencegat SM-3 dan SM-6 masing‑masing juga menyusut sekitar 20%.
Dampak pada Kesiapan Menghadapi China
Pengurangan stok ini tidak hanya memengaruhi operasi di Timur Tengah, tetapi juga menurunkan kemampuan AS dalam menghadapi skenario konflik besar lain, khususnya dengan China. Pakar militer menilai bahwa mengisi kembali persediaan tersebut dapat memerlukan waktu satu hingga empat tahun, dengan proses ekspansi hingga mencapai kapasitas penuh memerlukan tambahan beberapa tahun.
Senator Jack Reed (D‑RI) menegaskan, “Pada tingkat produksi saat ini, memulihkan apa yang telah kita habiskan bisa memakan waktu bertahun‑tahun,” menyoroti beban logistik dan biaya yang sangat besar.
Biaya Ekonomi yang Mencengangkan
Perang Iran diperkirakan menelan biaya antara 28 hingga 35 miliar dolar AS, atau hampir satu miliar dolar per hari. Dalam dua hari pertama saja, penggunaan amunisi senilai 5,6 miliar dolar AS telah tercatat. Pengeluaran tersebut menambah beban fiskal Amerika serta menurunkan fleksibilitas anggaran pertahanan untuk konflik lain.
Data Kuantitatif Persediaan Rudal
- Patriot: stok habis 50%.
- THAAD: lebih dari 50% terpakai.
- PrSM: 45% terpakai.
- Tomahawk: lebih dari 1.000 unit diluncurkan, setara 10 kali pembelian tahunan Pentagon.
- JASSM-ER: sekitar 1.100 unit digunakan, hampir separuh total cadangan.
- SM‑3/SM‑6: masing‑masing sekitar 20% habis.
Angka-angka tersebut menegaskan bahwa persediaan kritis yang sebelumnya disiapkan untuk skenario konfrontasi dengan China kini harus diprioritaskan kembali untuk mengisi ulang.
Dengan stok rudal AS yang kini berada pada tingkat mengkhawatirkan, kebijakan pertahanan AS dipaksa untuk meninjau kembali prioritas alokasi sumber daya, mempercepat produksi, serta mengevaluasi kembali strategi penempatan senjata di medan operasi.
Kesimpulannya, krisis persediaan rudal ini menyoroti betapa rapuhnya kesiapan militer Amerika dalam menghadapi konflik simultan di beberapa wilayah. Upaya pemulihan akan memerlukan investasi waktu, dana, dan kebijakan yang terkoordinasi antara lembaga pertahanan, industri pertahanan, dan legislatif.
