Keuangan.id – 08 April 2026 | Di tengah hiruk-pikuk musim legislatif, sekelompok tokoh Yahudi di Georgia mempersembahkan sebuah perayaan Passover yang tidak hanya menghidupkan tradisi kuno, tetapi juga menambah warna kebersamaan lintas partai politik. Acara “Sine Die Seder” yang berlangsung pada 2 April 2026 di Gedung Capitol negara bagian Georgia menjadi sorotan utama media karena menggabungkan unsur keagamaan, budaya, dan dinamika politik dalam satu momen yang penuh makna.
Awal Mula Sine Die Seder
Inisiatif tersebut datang dari Rep. Esther Panitch, satu-satunya anggota Dewan Georgia yang beragama Yahudi. Menyadari bahwa hari pertama Passover jatuh pada Rabu, Panitch berhasil meyakinkan pemimpin mayoritas DPR untuk menghentikan sidang pada hari itu. Namun, sidang tetap dijadwalkan pada malam kedua Passover, sehingga Panitch memutuskan untuk mengadakan seder khusus di dalam gedung Capitol pada malam itu.
Awalnya hanya direncanakan untuk sekitar sepuluh orang — beberapa staf, intern, dan wartawan — namun antusiasme yang tinggi membuat jumlah peserta meluas hingga tiga puluh orang, termasuk legislator non-Yahudi dan anggota keluarga mereka.
Rangkaian Acara dan Makna Simbolik
Seder dimulai dengan bacaan Haggadah yang dipimpin oleh suami Panitch, diikuti oleh pembacaan khusus dari House Speaker Jon Burns, seorang Republik, yang menyampaikan bagian “Anak Bijak”. Kehadiran Burns yang mengenakan yarmulke menambah kesan kuat akan toleransi lintas keyakinan.
Menu yang disajikan meliputi sup bola matzo, brisket, ayam, kentang tumbuk, dan sayuran, semuanya diletakkan di atas taplak biru yang meniru Laut Merah yang terbuka. Sebagai sentuhan kreatif, meja dihiasi dengan kodok plastik yang melambangkan salah satu tulah Mesir, menegaskan kembali narasi pembebasan dalam tradisi Passover.
Bagian paling menonjol adalah lagu “Dayenu” yang diubah menjadi “Sine Die-yenu” oleh seorang rabbi dari pinggiran Atlanta. Lirik baru ini menggabungkan elemen legislatif dengan cerita Exodus, menimbulkan tawa sekaligus rasa kebersamaan di antara peserta.
Resonansi Politik dan Sosial
Acara ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi simbol persatuan dalam lingkungan politik yang sering kali terpolarisasi. Greg Bluestein, wartawan politik senior dari Atlanta Journal Constitution, menyebut seder ini sebagai salah satu yang paling bermakna yang pernah ia ikuti, menyoroti bagaimana tradisi lama tetap relevan bahkan dalam jam-jam legislatif yang paling sibuk.
Para peserta, termasuk Bryan Markowitz, direktur eksekutif Asosiasi Oftalmologi Georgia, menuturkan betapa pentingnya kesempatan untuk merayakan Passover tanpa harus meninggalkan tugas mereka di Capitol. “Saya dulu harus pulang cepat‑cepat untuk ikut seder di rumah, jadi memiliki acara di sini sangat istimewa,” ujar Markowitz.
Hubungan dengan Perayaan Agama Lain
Menjelang akhir pekan yang sama, dunia agama lain juga merayakan momen penting. Pada Senin Paskah, Paus Leo XIV menyampaikan ucapan selamat Paskah di Piazza San Pietro, menekankan bahwa “Passover Tuhan adalah Passover umat manusia”. Pernyataan tersebut menggarisbawahi paralel antara kebebasan spiritual dalam tradisi Yahudi dan kebangkitan Kristus dalam Kekristenan, menambah dimensi ekumenis pada perayaan global.
Meski tidak secara langsung terkait, suasana kebahagiaan yang melingkupi kedua perayaan tersebut memperkuat pesan universal tentang harapan, pembebasan, dan persaudaraan lintas kepercayaan.
Kesimpulan
Sine Die Seder di Georgia membuktikan bahwa tradisi Passover dapat beradaptasi dan tetap relevan dalam konteks modern, bahkan di dalam ruang politik yang penuh tekanan. Dengan menggabungkan ritual kuno, kreativitas modern, dan semangat inklusif, acara ini tidak hanya menghidupkan kembali kisah Exodus, tetapi juga menegaskan pentingnya dialog antar‑agama dan lintas partai dalam memperkuat ikatan sosial. Sebuah contoh nyata bahwa kebahagiaan Passover dapat menjadi jembatan bagi keberagaman, persatuan, dan harapan di tengah tantangan zaman.
