Keuangan.id – 22 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona tekanan setelah keputusan MSCI yang menambah beban pada aliran dana asing. Pada pembukaan Rabu 22 April 2026, IHSG sempat menguat tipis, namun segera turun kembali ke level 7.546,06, menandakan volatilitas tinggi dan prediksi pergerakan sideways. Di tengah kondisi ini, investor mulai mencari peluang pada saham yang diperdagangkan dengan harga diskon namun tetap menawarkan potensi pertumbuhan dan dividen yang menarik.
Tekanan IHSG dan Pengaruh MSCI
Keputusan MSCI untuk menyesuaikan kriteria seleksi indeks regional menambah ketidakpastian pada pasar modal Indonesia. Aliran masuk dana asing menjadi lebih selektif, mengakibatkan penurunan likuiditas dan penurunan nilai indeks secara keseluruhan. Data IDX Mobile mencatat transaksi harian mencapai Rp1,09 triliun dengan volume 2,74 miliar lembar saham, menunjukkan aktivitas tinggi meski harga berada di zona merah.
Daftar Saham Undervalued yang Bisa Diincar
Beberapa saham berhasil menembus kenaikan lebih dari 15 persen pada sesi pagi, menandakan adanya momentum beli yang kuat meski pasar secara umum masih lesu. Berikut lima saham yang masuk dalam watchlist investor:
- WBSA – Saham industri tekstil yang diperdagangkan dengan valuasi di bawah rata-rata sektornya, namun menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang stabil.
- BABY – Perusahaan konsumer yang memproduksi barang kebutuhan bayi, mengalami penurunan harga akibat sentimen pasar, tetapi fundamental tetap kuat.
- BOBA – Produsen minuman berbasis kopi, memiliki margin keuntungan yang tinggi dan sedang berada dalam fase konsolidasi harga.
- LCKM – Emiten logam mulia dengan cadangan yang cukup, manfaatkan penurunan rupiah untuk meningkatkan nilai ekspor.
- KONI – Perusahaan konstruksi yang memiliki kontrak pemerintah, menawarkan dividen tinggi dan harga saham yang relatif murah.
Kelima saham tersebut tidak hanya mengalami lonjakan harga, melainkan juga menunjukkan fundamental yang mendukung penilaian undervalued, seperti rasio Price to Earnings (P/E) di bawah rata-rata industri dan arus kas operasional yang positif.
Rotasi Sektor Akibat Pelemahan Rupiah
Pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp17.000 per dolar menimbulkan rotasi portofolio. Sektor komoditas dan ekspor, termasuk batu bara, nikel, minyak, gas, dan kelapa sawit, menjadi “safe haven” karena pendapatan mereka mayoritas dalam dolar AS. Emiten seperti ADRO dan PTBA menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan sektor yang bergantung pada impor atau memiliki beban utang valas tinggi.
Strategi Investasi di Pasar Tertekan
Investor yang ingin memanfaatkan kondisi pasar saat ini dapat mempertimbangkan beberapa pendekatan:
- Fokus pada saham dengan valuasi di bawah nilai bukunya (price to book) dan rasio P/E rendah untuk mengidentifikasi peluang undervalued.
- Cari saham yang menawarkan dividen tinggi, karena dividen dapat menjadi sumber pendapatan stabil saat harga saham berfluktuasi.
- Manfaatkan sektor komoditas yang mendapatkan keuntungan dari kurs rupiah melemah, terutama perusahaan yang memiliki pendapatan dalam dolar.
- Perhatikan likuiditas saham; pilih saham dengan volume perdagangan yang cukup tinggi untuk memudahkan masuk dan keluar posisi.
Selain itu, penting untuk melakukan diversifikasi antar sektor untuk mengurangi risiko spesifik dan tetap mengawasi kebijakan moneter serta keputusan regulator yang dapat mempengaruhi arus dana.
Dengan menggabungkan analisis fundamental, evaluasi nilai relatif, serta pemahaman tentang faktor makroekonomi seperti kebijakan MSCI dan nilai tukar rupiah, investor dapat menemukan peluang investasi yang menarik meski pasar berada di zona tekanan.
Kesimpulannya, meskipun IHSG berada dalam fase volatilitas dan dipengaruhi keputusan MSCI, masih ada sejumlah saham undervalued yang menawarkan potensi upside yang signifikan. Memilih saham dengan fundamental kuat, dividen tinggi, dan eksposur pada sektor komoditas dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengoptimalkan portofolio di tengah ketidakpastian.
