Keuangan.id – 13 Maret 2026 | Jakarta, 12 Maret 2026 – Cendekiawan Muslim sekaligus mantan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Quraish Shihab, kembali menjadi sorotan media setelah serangkaian penampilan publiknya dalam tiga agenda berbeda: ceramah di Istana Merdeka yang menyertakan doa khusus bagi Presiden Prabowo Subianto, tausiah tentang Perjanjian Hudaibiyah di depan tokoh politik, serta dialog terbuka dengan aktor Emir Mahira mengenai interpretasi hukum Islam terkait kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, Quraish juga muncul dalam laporan iNews.id yang mengulas keutamaan malam Lailatul Qadar, memperkaya pemahaman umat tentang doa dan makna malam suci.
Doa Khusus untuk Presiden Prabowo di Peringatan Nuzulul Quran
Pada Selasa (10/3), Quraish Shihab menyampaikan ceramah pada peringatan Nuzulul Quran di Istana Merdeka. Di akhir pidatonya, ia memanjatkan doa agar Presiden Prabowo Subianto senantiasa mendapat pertolongan Allah SWT dalam menegakkan perdamaian dan keadilan. Quraish meneladani tradisi lama dengan mengutip doa gurunya, Syekh Mutawalli Sya’rawi, yang pernah dipanjatkan untuk Presiden Mesir. “Doa itu relevan untuk dipanjatkan bagi Presiden Prabowo dalam memimpin bangsa,” ujar Quraish, menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai moral.
Tausiah Perjanjian Hudaibiyah: Keadilan sebagai Inti
Beberapa hari setelah ceramah istana, Quraish hadir dalam pertemuan politik di depan Prabowo. Ia menyoroti Perjanjian Hudaibiyah, menekankan bahwa keadilan merupakan fondasi utama dalam setiap perjanjian, termasuk yang bersejarah sekalipun. Menurutnya, “Keadilan bukan sekadar istilah, melainkan prinsip yang harus dijaga dalam kebijakan negara.” Pernyataan ini menambah bobot moral pada agenda politik menjelang pemilihan umum mendatang.
Dialog dengan Emir Mahira: Menyingkap Makna Simbolik Pukulan dalam Islam
Aktor muda Emir Mahira, yang dikenal lewat film “Garuda di Dadaku”, mengungkap kebingungan mengenai hadis yang menyebutkan “pukulan” sebagai bentuk teguran. Emir bertanya langsung kepada Quraish Shihab untuk klarifikasi. Quraish menegaskan bahwa interpretasi sempit yang menjustifikasi kekerasan fisik adalah keliru. “Pukulan yang dimaksud adalah simbolik, sebagai teguran kasih sayang yang tidak menyakiti atau meninggalkan bekas,” jelasnya. Emir kemudian menyimpulkan bahwa penyalahgunaan ayat-ayat agama untuk membenarkan kekerasan merupakan akibat dari interpretasi manusia yang sempit, bukan dari ajaran Islam itu sendiri.
Lailatul Qadar: Penjelasan Quraish tentang Doa dan Makna Malam Mulia
Dalam laporan iNews.id, Quraish Shihab muncul kembali sebagai pakar tafsir Al‑Qur’an. Ia menjelaskan bahwa istilah “qadr” memiliki tiga arti: penetapan, pengaturan, dan takdir. Menurutnya, Lailatul Qadar adalah malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia, baik individu maupun kolektif. Quraish mengutip ayat Al‑Qur’an Surat Al‑Qadar (97:1‑3) dan menambahkan: “Malam tersebut dipilih sebagai titik tolak segala kemuliaan, termasuk penurunan Al‑Qur’an dan penetapan strategi para nabi.” Selanjutnya, ia memperkenalkan empat doa malam Lailatul Qadar yang sering dibacakan umat, lengkap dengan teks Arab dan terjemahan, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah pada 10 hari terakhir Ramadan.
Berbagai penampilan Quraish Shihab ini menunjukkan peran penting ulama publik dalam menjembatani nilai‑nilai keagamaan dengan dinamika sosial‑politik kontemporer. Dari doa untuk pemimpin negara, penegasan keadilan historis, hingga klarifikasi hukum Islam yang sering disalahartikan, Quraish berupaya menyajikan Islam yang moderat, inklusif, dan relevan bagi generasi milenial. Pada akhir pekan, ia menutup dengan harapan bahwa “Islam menjadi agama yang dapat dihayati secara personal, tanpa distorsi ideologis,” menegaskan kembali komitmennya untuk membumikan Al‑Qur’an dalam kehidupan sehari‑hari.
Dengan pengaruhnya yang meluas di media tradisional maupun digital, Quraish Shihab terus menjadi suara yang menyeimbangkan antara tradisi dan modernitas, memberi arah bagi umat Islam Indonesia dalam menavigasi tantangan zaman.
