Keuangan.id – 08 April 2026 | Industri fintech lending diproyeksikan terus menguat hingga tahun 2026, dan perusahaan lokal Adapundi menyatakan keyakinannya akan pertumbuhan positif. Menurut data internal dan analisis pasar, volume pinjaman digital diperkirakan naik rata‑rata 18 % per tahun, sementara rasio kegagalan pembayaran tetap berada di bawah 2 % berkat penerapan teknologi canggih.
Faktor Pendorong Pertumbuhan
- Peningkatan Penetrasi Internet: Lebih dari 80 % rumah tangga di Indonesia sudah memiliki akses internet stabil, memperluas basis calon peminjam.
- Regulasi yang Mendukung: Kebijakan OJK yang menyederhanakan lisensi dan memperkuat perlindungan konsumen menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif.
- Inovasi Produk: Penawaran pinjaman mikro, kredit usaha kecil, dan pembiayaan berbasis e‑commerce menambah variasi layanan.
Strategi Manajemen Risiko Adapundi
Untuk menjaga profitabilitas, Adapundi mengintegrasikan tiga lapisan kontrol risiko:
- Analitik Data: Menggunakan machine learning untuk menilai kelayakan kredit secara real‑time.
- Verifikasi Identitas: Implementasi biometrik dan verifikasi dokumen digital mengurangi potensi fraud.
- Diversifikasi Portofolio: Menyebar eksposur pinjaman ke berbagai sektor, termasuk agrikultur, ritel, dan layanan digital.
Proyeksi Keuangan 2024‑2026
| Tahun | Volume Pinjaman (Rp Miliar) | Revenue (Rp Miliar) | ROA (%) |
|---|---|---|---|
| 2024 | 1.200 | 210 | 5,2 |
| 2025 | 1.500 | 270 | 5,8 |
| 2026 | 1.800 | 340 | 6,1 |
Dengan proyeksi tersebut, Adapundi menargetkan peningkatan pendapatan tahunan sebesar 15 % hingga akhir 2026. Perusahaan juga berencana memperluas jaringan mitra fintech dan mengoptimalkan infrastruktur cloud untuk menurunkan biaya operasional.
Secara keseluruhan, kombinasi regulasi yang mendukung, adopsi teknologi tinggi, serta strategi risiko yang ketat menjadi landasan utama optimismenya Adapundi dalam menatap masa depan fintech lending Indonesia.
