PHK Marak, BPJS Ketenagakerjaan Lihat Naiknya Klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan dan JHT

PHK Marak, BPJS Ketenagakerjaan Lihat Naiknya Klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan dan JHT
PHK Marak, BPJS Ketenagakerjaan Lihat Naiknya Klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan dan JHT

Keuangan.id – 18 Mei 2026 | Maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) telah berdampak pada peningkatan klaim di BPJS Ketenagakerjaan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kenaikan pembayaran manfaat, terutama pada program Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) sepanjang Maret 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, mengatakan meningkatnya jumlah PHK memengaruhi frekuensi klaim peserta BPJS Ketenagakerjaan.

"Secara tahunan (year-on-year/yoy), pada Maret 2026 tercatat klaim JHT meningkat sebesar Rp1,85 triliun atau 14,1 persen, yang didorong oleh kenaikan frekuensi klaim terkait PHK," tutur Ogi Prastomiyono dalam jawaban tertulis yang disampaikan di Jakarta, Sabtu.

Selain JHT, klaim JKP juga mengalami kenaikan signifikan. OJK mencatat klaim JKP naik 91 persen secara tahunan.

Menurut Ogi, kenaikan tersebut dipengaruhi relaksasi persyaratan klaim serta peningkatan manfaat yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2025 tentang perubahan atas PP Nomor 37 Tahun 2021 mengenai Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan.

OJK meminta pengelolaan program jaminan sosial dilakukan secara prudent dan adaptif agar keberlanjutan pembayaran manfaat tetap terjaga.

"Dengan pendekatan tersebut, diharapkan keseimbangan antara kecukupan manfaat bagi peserta dan keberlanjutan dana jaminan sosial tetap dapat terjaga dalam jangka panjang," kata Ogi.

OJK juga menilai fenomena PHK perlu menjadi perhatian industri asuransi karena berpotensi memengaruhi kualitas aset dan pertumbuhan premi, terutama pada asuransi kredit dan asuransi jiwa kredit.

Saat terkena PHK, masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok sehingga risiko polis asuransi menjadi nonaktif atau lapse meningkat.

Di sisi lain, risiko gagal bayar kredit juga ikut naik.

Menurut Ogi, kondisi tersebut dapat memberi tekanan terhadap rasio klaim dan solvabilitas perusahaan asuransi jika tidak diantisipasi dengan baik.

PHK juga mempengaruhi konsumsi masyarakat. Telur merupakan salah satu sumber protein dan nutrisi yang tinggi. Selain harganya yang murah dan mudah didapatkan, telur juga menjadi bahan makanan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Konsumsi telur perlu dilakukan secara seimbang. Telur mengandung protein, kolin, vitamin B12, lutein, serta vitamin D yang baik bagi tubuh.

Meski memiliki banyak manfaat, konsumsi telur tetap perlu dilakukan secara seimbang. Di sisi lain, telur juga dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan atau diolah dengan cara yang tidak sehat.

Cara pengolahan yang kurang tepat dapat mengurangi nilai nutrisi telur. Selain itu, ada beberapa kelompok orang yang memang perlu membatasi konsumsi telur.

Secara umum, konsumsi satu hingga dua butir telur per hari masih tergolong aman bagi orang sehat tanpa penyakit tertentu.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah wajar tidak terlalu memengaruhi kadar kolesterol dibandingkan konsumsi lemak jenuh seperti minyak sawit atau mentega.

Bahkan, telur dapat menjadi pilihan asupan harian bagi orang yang sedang menjalani program diet.

Studi dari The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa konsumsi dua butir telur per hari saat diet dapat membantu menurunkan kadar kolesterol Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat.

Pada dasarnya, telur aman dikonsumsi. Namun, ada beberapa kelompok orang yang perlu memperhatikan jumlah konsumsinya.

Orang dengan kadar kolesterol tinggi misalnya, perlu lebih bijak dalam mengonsumsi telur, terutama jika telur diolah dengan cara yang kurang sehat.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi telur berlebih pada penderita diabetes dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular.

Sementara bagi penderita penyakit jantung, risiko kesehatan biasanya meningkat ketika telur dikonsumsi bersamaan dengan makanan ultra-proses seperti sosis, nugget, atau keripik kentang.

Telur merupakan makanan sehat dan mengonsumsinya setiap hari umumnya tidak menjadi masalah.

Exit mobile version