Keuangan.id – 16 April 2026 | Bank‑bank digital di Indonesia menunjukkan tanda‑tanda tekanan dalam mempertahankan likuiditas yang memadai pada kuartal pertama 2026. Meskipun pertumbuhan nasabah baru terus meningkat, banyak lembaga keuangan berbasis teknologi ini mencatat rasio likuiditas yang mendekati batas minimum yang ditetapkan regulator.
Berbagai faktor menjadi penyebab utama kesulitan tersebut, antara lain:
- Penarikan dana nasabah secara massal yang dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global.
- Keterbatasan akses ke pasar modal untuk memperoleh dana jangka pendek.
- Persaingan ketat dengan bank tradisional yang menawarkan produk simpanan dengan tingkat bunga lebih menarik.
- Regulasi yang menuntut tingkat likuiditas minimum yang lebih tinggi, mengurangi fleksibilitas manajemen kas.
Data internal beberapa bank digital menunjukkan bahwa likuiditas mereka berada pada kisaran 105‑110 persen, sangat dekat dengan ambang batas 100 persen yang diwajibkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kondisi ini memaksa mereka untuk memperketat kebijakan pinjaman dan meningkatkan penawaran produk berbasis tabungan berjangka.
Untuk mengatasi tekanan ini, sejumlah bank digital merencanakan langkah-langkah berikut:
- Memperluas kemitraan dengan institusi keuangan non‑bank untuk akses pendanaan alternatif.
- Mengoptimalkan algoritma penilaian risiko guna menurunkan tingkat kredit macet.
- Menawarkan produk tabungan berjangka dengan imbal hasil kompetitif untuk menarik dana jangka panjang.
- Melakukan diversifikasi sumber pendapatan, termasuk layanan pembayaran lintas‑border dan layanan keuangan untuk usaha kecil menengah (UKM).
Penting bagi regulator untuk menyeimbangkan antara menjaga stabilitas sistem keuangan dan memberi ruang inovasi bagi bank digital. Kebijakan yang terlalu ketat dapat mengekang pertumbuhan sektor fintech, sementara kebijakan yang terlalu longgar berpotensi meningkatkan risiko likuiditas di masa depan.
Dengan langkah adaptasi yang tepat, perbankan digital masih memiliki peluang untuk memperbaiki posisi likuiditasnya dan terus berkontribusi pada inklusi keuangan di Indonesia.
