Pemerintah Ganti LPG ke CNG, Apa Untung dan Bahayanya?

Pemerintah Ganti LPG ke CNG, Apa Untung dan Bahayanya?
Pemerintah Ganti LPG ke CNG, Apa Untung dan Bahayanya?

Keuangan.id – 09 Mei 2026 | Pemerintah kini melirik Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah ini bertujuan untuk menekan tingginya ketergantungan terhadap impor LPG. Porsi impor LPG nasional pada 2025 mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan, dan diperkirakan naik menjadi 83,97 persen pada 2026.

Kebutuhan LPG pada 2025 tercatat sebesar 25.000 metrik ton per hari, dan naik menjadi 26.000 metrik ton per hari pada Januari-Februari 2026. Total impor LPG hingga akhir Februari 2026 telah menembus 1,31 juta ton, sementara volume produksi nasional hanya mampu menyuplai 0,13 juta ton.

Apakah CNG Lebih Baik daripada LPG?

CNG memiliki tekanan yang cukup tinggi, sehingga lebih rawan meledak dibanding LPG. Namun, bahan baku CNG di Indonesia sangat melimpah dibanding LPG yang terbatas. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut bahwa CNG dapat menjadi alternatif pengganti LPG yang efektif.

CNG terdiri dari campuran hidrokarbon, seperti metana, etana, propana, dan butana. Dalam CNG, kandungan metana menjadi yang paling dominan, bahkan bisa mencapai lebih dari 95 persen. CNG tetap berbentuk gas yang dikompresi dengan tekanan sangat tinggi, sehingga memiliki daya ledak yang jauh lebih besar dibanding LPG.

Tantangan Pengembangan CNG

Ketua Aspermigas, Moshe Rizal, menyebut bahwa CNG memiliki karakteristik yang berbeda dengan LPG. Tekanan CNG mencapai 200-250 bar, sementara LPG hanya 5-10 bar. CNG lebih rawan meledak dibanding LPG, sehingga memerlukan penanganan yang lebih hati-hati.

Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur dan regulasi untuk pengembangan CNG. Selain itu, perlu dilakukan edukasi dan pelatihan untuk masyarakat tentang penggunaan CNG yang aman dan efektif.

Dengan demikian, CNG dapat menjadi alternatif pengganti LPG yang efektif dan aman, serta membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.

Exit mobile version