Keuangan.id – 26 April 2026 | Adira Finance, perusahaan pembiayaan terkemuka di Indonesia, melaporkan bahwa pembiayaan alat beratnya mencapai Rp136 miliar pada akhir Maret 2026. Angka ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya dan menunjukkan keberhasilan strategi diversifikasi perusahaan.
Strategi Diversifikasi di Tengah Tekanan Batubara
Industri batubara Indonesia mengalami penurunan permintaan global dan regulasi lingkungan yang semakin ketat, menimbulkan tekanan pada sektor keuangan yang sebelumnya banyak menyalurkan dana ke tambang. Menyikapi hal ini, Adira Finance memperluas portofolio pembiayaan ke sektor konstruksi, pertambangan non‑batubara, serta industri manufaktur berat.
Komposisi Pembiayaan Alat Berat
| Sektor | Nilai Pembiayaan (Rp Miliar) |
|---|---|
| Konstruksi | 58 |
| Pertambangan Non‑Batubara | 42 |
| Manufaktur Berat | 36 |
Dengan struktur tersebut, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada industri batubara sekaligus memanfaatkan pertumbuhan infrastruktur nasional yang didorong oleh kebijakan pemerintah.
Prospek Kedepan
Para analis memperkirakan bahwa permintaan alat berat akan terus meningkat seiring dengan proyek pembangunan jalan, pelabuhan, dan energi terbarukan. Adira Finance diperkirakan akan terus menambah portofolio pembiayaan, dengan target pertumbuhan tahunan di atas 10 persen.
Keberhasilan pencapaian Rp136 miliar dalam pembiayaan alat berat ini menegaskan bahwa diversifikasi sektor dapat menjadi kunci stabilitas keuangan perusahaan di tengah dinamika pasar energi.
