Berita  

Operasi Militer Israel di Lebanon: 13 Anggota Keamanan Tewas, Ratusan Sipil Terdampak

Operasi Militer Israel di Lebanon: 13 Anggota Keamanan Tewas, Ratusan Sipil Terdampak
Operasi Militer Israel di Lebanon: 13 Anggota Keamanan Tewas, Ratusan Sipil Terdampak

Keuangan.id – 04 Mei 2026 | Israel mengumumkan peluncuran Operasi Militer Israel di wilayah selatan Lebanon, menandai eskalasi baru dalam konflik yang telah berlangsung sejak awal Maret. Serangan udara dan artileri intensif menewaskan setidaknya 13 anggota keamanan Lebanon, sebagian besar merupakan personel militer dan polisi yang berada di zona konflik.

Serangan dan korban jiwa

Dalam 24 jam terakhir, serangkaian serangan udara Israel menewaskan 41 orang, termasuk warga sipil, menambah daftar kematian sejak 2 Maret menjadi 2.659 jiwa. Lebih dari 8.183 orang dilaporkan terluka dalam serangan yang mencakup kota-kota seperti Shoukine, Kfar Dajjal, Lwaizeh, Nabatieh, dan Siddiqine. Selain 13 anggota keamanan yang tewas, banyak warga sipil menjadi korban sampingan akibat rumah yang dihantam dan kendaraan yang ditembak.

Pelanggaran gencatan senjata

Gencatan senjata yang diumumkan pada 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei dinyatakan tidak efektif. Israel mengeluarkan peringatan kepada warga Lebanon untuk mengungsi setidaknya 1.000 meter dari dua belas kota dan desa, termasuk al‑Duwayr, Arab Salim, dan Kfar Sir. Perintah evakuasi ini menambah tekanan pada lebih dari satu juta pengungsi yang sudah melarikan diri dari wilayah selatan.

Reaksi internasional

Perserikatan Bangsa Bangsa mencatat bahwa tidak ada gencatan senjata yang nyata, melainkan hanya penurunan intensitas tembakan. China melalui utusannya di PBB menilai situasi tidak stabil dan mendesak Israel menghentikan pemboman. Al‑Jazeera menyoroti bahwa mayoritas korban tewas adalah warga sipil, menentang klaim Israel bahwa operasi ditujukan semata‑mata pada kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran.

Dampak kemanusiaan

  • Lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi ke wilayah yang lebih aman, menambah beban pada fasilitas bantuan.
  • Infrastruktur medis di selatan Lebanon mengalami kerusakan, memperparah krisis perawatan bagi korban luka.
  • Kerusakan rumah dan fasilitas umum memperburuk kondisi hidup, memicu risiko kelaparan dan penyakit menular.
  • Pendidikan anak-anak terganggu akibat penutupan sekolah sementara.

Situasi di perbatasan Lebanon‑Israel tetap tegang, dengan potensi eskalasi lebih lanjut jika pelanggaran gencatan senjata terus berlanjut. Komunitas internasional terus menyerukan dialog dan penarikan pasukan, sementara warga sipil menanti kepastian keamanan dan bantuan kemanusiaan.

Exit mobile version