Keuangan.id – 16 April 2026 | Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai produsen nikel terbesar di dunia, namun pola permintaan yang berubah menimbulkan tantangan baru bagi eksportir. Data terbaru menunjukkan bahwa sektor industri baja kini menyerap porsi terbesar nikel domestik, sementara pasar mobil listrik (EV) global yang sebelumnya diprediksi menjadi pembeli utama mulai beralih ke teknologi baterai alternatif.
Berikut beberapa faktor yang memengaruhi pergeseran tersebut:
- Kebutuhan baja tahan korosi: Nikel masih menjadi bahan utama dalam pembuatan stainless steel dan paduan khusus, sehingga produsen baja Indonesia meningkatkan pembelian untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
- Perubahan teknologi baterai: Produsen baterai EV mulai mengalihkan fokus dari nikel tinggi ke kombinasi lithium‑ion dengan kandungan nikel lebih rendah atau ke teknologi solid‑state, mengurangi tekanan pada pasokan nikel.
- Kebijakan pemerintah: Rencana penetapan kuota ekspor nikel dan insentif untuk pengolahan dalam negeri menambah daya tarik bagi industri baja lokal.
Data produksi dan alokasi nikel pada kuartal terakhir dapat dilihat pada tabel berikut:
| Komoditas | Produksi (ribuan ton) | Porsi Domestik (%) |
|---|---|---|
| Stainless Steel | 1.200 | 55 |
| Baterai EV | 800 | 30 |
| Lainnya | 400 | 15 |
Meskipun industri baja menyerap lebih dari setengah produksi nikel, risiko tersisih dari pasar EV global tetap signifikan. Penurunan permintaan baterai dapat menyebabkan surplus nikel yang berpotensi menurunkan harga ekspor, sekaligus mengurangi daya tarik investasi dalam proyek penambangan baru yang dirancang khusus untuk rantai pasok EV.
Para analis menyarankan beberapa langkah strategis untuk mengurangi risiko tersebut:
- Meningkatkan nilai tambah dengan mengembangkan fasilitas pengolahan nikel menjadi bahan baku baterai di dalam negeri.
- Menggalakkan riset dan pengembangan teknologi baterai yang tetap memerlukan nikel tinggi, seperti NCM 811, untuk menjaga relevansi pasar.
- Memperluas diversifikasi pasar ekspor, termasuk negara‑negara yang masih mengandalkan nikel dalam produksi baja berkualitas tinggi.
Dengan mengoptimalkan sinergi antara industri baja dan sektor energi bersih, Indonesia dapat mempertahankan peranannya sebagai pemasok nikel utama sekaligus memastikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi negara.
