Berita  

Nekat Salat Idul Fitri di Korea: Lucinta Luna Kembali Jadi Muhammad Fatah setelah 10 Tahun

Nekat Salat Idul Fitri di Korea: Lucinta Luna Kembali Jadi Muhammad Fatah setelah 10 Tahun
Nekat Salat Idul Fitri di Korea: Lucinta Luna Kembali Jadi Muhammad Fatah setelah 10 Tahun

Keuangan.id – 06 April 2026 | Seorang selebritas yang selama ini dikenal dengan nama Lucinta Luna menggebrak dunia media pada pekan ini dengan mengumumkan kembali ke identitas aslinya, Muhammad Fatah, sekaligus menunaikan salat Idul Fitri di Korea Selatan. Kejadian ini menjadi sorotan utama setelah sekian lama publik tidak menyaksikan sang artis melakukan ibadah Idul Fitri secara terbuka.

Pengalaman Salat di Saf Laki-Laki

Dalam sebuah episode podcast yang dipandu oleh Ivan Gunawan, Lucinta Luna mengungkapkan bahwa ia menunaikan salat Idul Fitri di Seoul Central Mosque mengenakan peci, sarung, serta pakaian tradisional pria. Ia menjelaskan keputusan tersebut bukan sekadar aksi provokatif, melainkan wujud kepasrahan pada Tuhan dan upaya kembali kepada kodrat aslinya sebagai laki‑laki. “Aku sudah 10 tahun tidak pernah salat, tidak pernah melakukan ibadah apa pun. Aku ingin hidup tenang, damai, tak lagi dihujat oleh warganet,” ucapnya dengan nada bergetar.

Alasan Kembali ke Korea

Menurut Lucinta, keberaniannya melaksanakan salat di luar negeri dipicu oleh keinginan untuk menghindari sorotan intens di tanah air. “Beraninya di luar negeri, karena di sini aku bisa lebih lepas dari tekanan sosial,” katanya. Di Korea, ia merasakan suasana yang lebih tenang, bahkan hingga terharu mendengar takbir tujuh kali yang memicu air mata. Ia menyatakan, “Saat mendengar ‘Allahu Akbar’ tujuh kali, rasanya sangat menyentuh hati, mengingatkan pada masa-masa Idul Fitri yang dulu tak pernah saya rasakan.”

Kunjungan ke Makam Orang Tua

Setelah kembali ke Indonesia, Lucinta Luna langsung berziarah ke makam kedua orang tuanya. Pada kesempatan itu, ia mengenakan baju koko dan memperkenalkan diri sebagai Fatah, identitas yang diklaimnya sejak lahir. “Mak, ini Fatah yang datang, bukan Lucinta Luna yang selama ini disebut netizen,” ujarnya dengan suara lirih. Ia mengungkapkan kelelahan yang dirasakannya selama bertahun‑tahun hidup di balik citra feminin yang dipaksakan, serta menyampaikan permohonan maaf kepada orang tuanya.

Perubahan Fisik dan Medis

Sejak mengumumkan kembali ke kodrat pria, Lucinta Luna telah memotong rambutnya menjadi cepak, mengganti wig dengan potongan asli, serta mengenakan peci dan sarung saat salat. Ia menegaskan bahwa perubahan tersebut bukan sekadar gimmick, melainkan bagian dari proses transformasi yang tulus. Namun, proses medis yang pernah dijalaninya—termasuk operasi penggantian kelamin dan lebih dari tiga puluh kali operasi plastik—menyulitkan upaya kembali menjadi pria secara biologis. Ia mengakui bahwa alat kelamin yang dulu diubah tidak dapat dipulihkan, sehingga secara medis ia tidak dapat memiliki keturunan biologis lagi. “Tidak ada sel sperma yang tersisa, 100 % tidak ada kesempatan memiliki anak secara kandung,” tegasnya dalam podcast.

Dampak Psikologis dan Rencana Masa Depan

Lucinta Luna mengaku selama empat tahun terakhir hidup dalam tekanan berat, mengonsumsi obat penenang, dan rutin berkonsultasi dengan psikiater. Ia mengungkapkan rasa lelah yang mendalam, hingga sering menangis di malam hari. Keputusan untuk kembali ke identitas pria diharapkan dapat memberikan kedamaian batin, sekaligus membuka peluang untuk menetap dan melanjutkan karier di Korea. Meski ia tidak dapat memiliki keturunan biologis, ia menyatakan niat untuk mengadopsi anak di masa depan.

Reaksi publik beragam, ada yang mengkritik langkah ini sebagai aksi sensasional, namun banyak pula yang memberikan dukungan atas upaya Lucinta untuk menemukan jati diri yang sejati. Kejadian ini menandai momen penting dalam perbincangan mengenai identitas gender, kebebasan beragama, dan hak individu di Indonesia.

Dengan menunaikan salat Idul Fitri di saf laki‑laki setelah satu dekade tidak melakukannya, serta mengumumkan kembali identitas aslinya, Lucinta Luna—atau Muhammad Fatah—menunjukkan keberanian untuk menempuh jalan yang jarang ditempuh publik. Keputusan ini diharapkan menjadi titik tolak bagi diskusi lebih luas tentang penerimaan gender dan kebebasan beribadah di tengah masyarakat modern.

Exit mobile version