Keuangan.id – 13 Maret 2026 | Jakarta – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nadiem Makarim kembali menjadi sorotan publik setelah munculnya laporan yang menuduhnya mengalami lonjakan penghasilan secara drastis pada tahun 2025. Pada Rabu (12 Maret 2026), Nadiem menanggapi isu tersebut dalam sebuah konferensi pers, menegaskan bahwa laporan tersebut merupakan hasil salah baca pada Surat Pemberitahuan (SPT) pajaknya.
Kesalahan Baca SPT Menjadi Pemicu Isu
Menurut Nadiem, angka yang dipublikasikan media menunjukkan peningkatan pendapatan hampir dua kali lipat, yaitu dari Rp 12,5 miliar menjadi sekitar Rp 23 miliar. “Saya telah memeriksa kembali dokumen pajak pribadi, dan ternyata ada kolom yang terbalik antara penghasilan bruto dan penghasilan neto pada tahun 2025. Karena itu angka yang muncul di publikasi bukanlah angka sebenarnya,” ujar Nadiem.
Ia menambahkan bahwa SPT yang diajukan ke Direktorat Jenderal Pajak telah dikoreksi dan tidak ada unsur penggelapan maupun penyelewengan. “Saya menyesal bila data yang keliru ini menimbulkan spekulasi negatif, namun saya harap masyarakat dapat menunggu klarifikasi resmi sebelum menarik kesimpulan,” tegasnya.
Saksi Mahkota dalam Kasus Pengadaan Chromebook
Tak lama setelah menjawab isu pajak, Nadiem kembali tampil di ruang sidang sebagai saksi mahkota dalam persidangan perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) yang diproses pada Selasa (10 Maret 2026). Dalam keterangannya, ia menolak keras tuduhan konspirasi yang dilontarkan terhadap dirinya dan rekan-rekan di Kementerian.
“Tidak ada pertemuan rahasia selama pandemi COVID-19 untuk merencanakan konspirasi. Penuntut umum harus menunjukkan bukti konkret, bukan sekadar asumsi,” kata Nadiem di depan hakim.
Ia menegaskan bahwa keputusan terkait spesifikasi sistem operasi (OS) dan pilihan perangkat keras sepenuhnya berada di tangan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) serta Direktur Jenderal, bukan di level Menteri. “Kami hanya memberikan arahan kebijakan digitalisasi, sementara proses teknis berada di bawah otoritas yang berwenang,” jelasnya.
Klarifikasi Pesan WhatsApp
Selain itu, Nadiem juga membantah rumor yang beredar mengenai pesan WhatsApp yang konon berisi instruksi rahasia untuk memanipulasi pengadaan. “Pesan-pesan tersebut merupakan diskusi teknis internal tim teknologi, bukan perintah tertutup untuk menguntungkan pihak tertentu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh percakapan telah dipublikasikan kepada publik melalui mekanisme transparansi kementerian, dan tidak ada bukti yang menunjukkan adanya unsur korupsi.
Fokus pada Transformasi Digital Pendidikan
Selama masa jabatannya, Nadiem menekankan bahwa prioritas utama adalah mempercepat transformasi digital di ekosistem pendidikan. Pembentukan tim teknologi khusus di Kemendikbudristek merupakan bagian dari arahan Presiden untuk meningkatkan akses belajar daring, terutama selama masa pandemi.
“Kami berupaya menyediakan infrastruktur digital yang memadai, mulai dari platform pembelajaran hingga pelatihan guru dalam penggunaan teknologi,” katanya.
Dengan penjelasan mengenai SPT, penolakan tuduhan konspirasi, serta klarifikasi pesan WhatsApp, Nadiem berharap masyarakat dapat menilai kembali persepsi yang terbentuk di media sosial.
Ia menutup pernyataannya dengan ajakan untuk menunggu hasil audit resmi dan proses hukum yang sedang berjalan, sambil terus berkomitmen pada agenda digitalisasi pendidikan yang telah menjadi agenda nasional.
