Keuangan.id – 02 April 2026 | Surabaya – Sebuah film yang kembali menghidupkan kenangan masa kecil kini menjadi jendela bagi orang tua untuk menyadari pelajaran penting yang sering terlewatkan dalam dunia anak. “Na Willa”, drama keluarga karya sutradara Ryan Adriandhy, tidak hanya menampilkan petualangan imajinatif seorang gadis kecil, melainkan juga mengangkat nilai‑nilai yang menjadi fondasi karakter anak menurut pakar parenting.
Reuni emosional penulis dengan sahabat masa kecil
Pada 31 Maret 2026, acara nonton bareng di Tunjungan Plaza 1 XXI, Surabaya, menyaksikan momen mengharukan ketika penulis novel inspiratif “Na Willa”, Reda Gaudiamo, bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Farida. Kedua tokoh ini tumbuh bersama di Gang Krembangan, latar utama cerita film, dan selama lebih dari enam dekade tidak bersua. Pertemuan itu terjadi saat Farida menonton adegan masa kecilnya yang diperankan oleh Freya Mikhayla, sementara Reda kecil muncul dalam wujud Na Willa yang dimainkan oleh Luisa Adreena.
“Nontonnya ikut terharu. Faridanya mirip sekali sama saya pas kecil, terutama saat adegan mengaji dan salat,” ujar Farida dengan mata berkaca‑kaca. Reda menambahkan, “Saya dulu berjanji mau pulang cepat, tapi tidak pernah. Kini janji itu terpenuhi walau kami sudah tua.”
Na Willa sebagai cermin dunia anak
Film ini menampilkan dunia gang yang dipenuhi keajaiban dalam imajinasi Na Willa. Dengan latar yang sederhana, cerita menyoroti cara anak memaknai lingkungan sekitar, mengolah rasa takut, dan menemukan kebahagiaan dalam hal‑hal kecil. Karakter Na Willa yang penuh rasa ingin tahu mengingatkan orang dewasa pada pentingnya memberi ruang bagi kreativitas anak, sebuah poin yang sering terabaikan ketika fokus pada prestasi akademik.
Sepuluh pelajaran hidup yang terlupakan
Seiring popularitas film, banyak orang tua mulai mengaitkan kisah Na Willa dengan pelajaran hidup dasar yang perlu diajarkan kepada anak. Berikut rangkuman 10 pelajaran penting yang selaras dengan tema film:
- Kegagalan sebagai proses belajar: Seperti Na Willa yang sering gagal menemukan “harta karun”, anak harus diajarkan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan batu loncatan.
- Mengelola emosi secara sehat: Ketika Na Willa menghadapi rasa cemas di gang gelap, ia belajar menenangkan diri. Orang tua harus mencontohkan cara mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan.
- Empati terhadap teman: Persahabatan antara Na Willa dan sahabat‑sahabatnya menekankan pentingnya memahami perasaan orang lain.
- Nilai kebersamaan dalam komunitas: Gang Krembangan menjadi contoh komunitas yang saling mendukung, mengajarkan anak pentingnya gotong‑royong.
- Penghargaan terhadap tradisi: Adegan mengaji dan salat memperlihatkan nilai spiritual yang dapat menumbuhkan rasa hormat pada budaya.
- Kreativitas tanpa batas: Imajinasi Na Willa mengubah benda biasa menjadi “peta harta”. Orang tua dapat merangsang kreativitas lewat permainan terbuka.
- Keberanian mengambil risiko kecil: Menjelajah gang yang “berbahaya” mengajarkan anak berani mencoba hal baru dengan pengawasan.
- Kemandirian dalam menyelesaikan masalah: Na Willa tidak selalu bergantung pada orang dewasa; ia mencari solusi sendiri.
- Kesabaran dalam proses belajar: Film menampilkan proses lambat namun pasti dalam menguasai keterampilan baru, mengajarkan nilai kesabaran.
- Penghargaan pada kenangan masa kecil: Seperti pertemuan Reda dan Farida, mengingat kembali masa kecil dapat memperkuat ikatan keluarga dan persahabatan.
Respon penonton dan dampak sosial
Sejak dirilis, “Na Willa” memperoleh sambutan hangat di seluruh Indonesia, terutama pada masa libur Lebaran ketika keluarga mencari tontonan yang menghangatkan hati. Penonton melaporkan perasaan nostalgia yang kuat dan mengakui bahwa film tersebut membuka mata mereka terhadap kebutuhan emosional anak yang selama ini terabaikan.
Para ahli psikologi anak menilai bahwa visualisasi dunia anak dalam film dapat menjadi alat edukatif bagi orang tua. Mereka menyarankan agar orang tua menonton bersama anak, kemudian berdiskusi tentang nilai‑nilai yang muncul, sehingga pelajaran hidup dapat ditransfer secara langsung.
Dengan kombinasi cerita pribadi penulis, latar historis persahabatan, dan pesan edukatif, “Na Willa” menjadi contoh sinema yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengedukasi. Film ini mengajak generasi dewasa untuk kembali mengingat dunia anak yang penuh keajaiban, sekaligus menegaskan bahwa mengajarkan nilai‑nilai dasar tidak boleh ditunda.
Kesimpulannya, melalui layar lebar Na Willa menghubungkan dua dunia: nostalgia masa kecil yang terabaikan dan kebutuhan mendesak untuk menanamkan pelajaran hidup pada generasi berikutnya. Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi semua orang tua bahwa mengasuh anak bukan sekadar menyiapkan prestasi, melainkan membekali mereka dengan keberanian, empati, dan rasa hormat pada diri sendiri serta lingkungan.
