Keuangan.id – 10 April 2026 | Selama ini banyak pemilik kendaraan beranggapan bahwa ban yang jarang dipakai tidak akan mengalami keausan atau kerusakan. Anggapan ini sering kali dipadu dengan kepercayaan bahwa menempatkan mobil dengan ban belok saat parkir dapat merusak sistem power steering. Namun, fakta teknik otomotif menunjukkan bahwa penyebab utama kerusakan ban jauh lebih kompleks daripada sekadar frekuensi penggunaan.
Mitos Umum tentang Ban Jarang Dipakai
Mitos utama yang beredar di kalangan pengendara adalah bahwa ban yang hampir tidak pernah menyentuh aspal akan tetap awet selamanya. Sebagian orang juga mempercayai bahwa posisi ban tidak lurus saat parkir dapat menimbulkan kerusakan pada sistem kemudi, terutama power steering.
Fakta Teknis: Apa yang Benar‑Benar Mempengaruhi Keausan Ban?
Berbagai faktor menentukan umur pakai ban, antara lain:
- Tekanan udara: Tekanan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi mempercepat keausan pada sisi atau pusat tapak.
- Beban dan muatan: Mobil yang sering mengangkut beban berat akan menimbulkan beban ekstra pada struktur ban.
- Gaya mengemudi: Akselerasi mendadak, pengereman keras, dan belokan tajam meningkatkan suhu dan deformasi ban.
- Kondisi jalan: Jalan bergelombang atau berbatu menyebabkan keausan tidak merata.
- Suhu lingkungan: Suhu tinggi dapat mengurangi elastisitas karet, sehingga mempercepat retak.
Dari perspektif ini, frekuensi penggunaan bukanlah satu‑satunya penentu. Bahkan ban yang “jarang dipakai” tetap terpapar pada beban statis, suhu, serta tekanan udara yang dapat memicu degradasi material seiring waktu.
Parkir dengan Ban Belok: Mitos atau Realita?
Menurut Iwan, pemilik bengkel di Solo, posisi ban yang tidak lurus saat mobil diparkir tidak menyebabkan kerusakan pada sistem power steering, baik pada tipe hidrolik maupun electric power steering (EPS). Ia menekankan bahwa pompa atau motor EPS tidak beroperasi ketika mesin dimatikan, sehingga tidak ada gaya internal yang dapat merusak rack‑steer. Hardi Wibowo, spesialis Nissan & Datsun, menambahkan bahwa faktor utama hanyalah estetika; kemudi yang berada pada posisi belok tidak menimbulkan stress berlebih pada komponen kemudi.
Namun, ia tetap menyarankan parkir dengan ban lurus pada permukaan datar untuk meminimalkan risiko keausan pada sisi ban yang lebih banyak menahan beban statis ketika roda berada dalam posisi miring.
Ban Mobil Listrik: Kenapa Tidak Boleh Pakai Ban Konvensional?
Perkembangan kendaraan listrik (EV) menambah dimensi baru pada perdebatan ini. Ban khusus EV dirancang dengan struktur yang lebih kuat untuk menahan torsi instan yang dihasilkan motor listrik. Menurut Apriyanto, National Sales Manager PT Hankook Tire Sales Indonesia, penggunaan ban konvensional pada EV dapat menurunkan efisiensi energi, memperpendek jarak tempuh, serta mempercepat keausan karena tidak mampu menahan beban torsi tinggi.
Selain itu, ban EV biasanya dilengkapi dengan busa peredam suara untuk menjaga kebisingan kabin tetap rendah. Ban yang tidak sesuai dapat menimbulkan suara berlebih, mengurangi kenyamanan berkendara, dan pada akhirnya mempercepat keausan karena getaran yang tidak terkontrol.
Langkah Praktis untuk Memperpanjang Umur Ban
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan oleh semua pemilik mobil, baik konvensional maupun listrik:
- Periksa tekanan udara secara rutin sesuai rekomendasi pabrik.
- Lakukan rotasi ban setiap 5.000–10.000 km untuk memastikan keausan merata.
- Hindari akselerasi dan pengereman mendadak yang meningkatkan suhu ban.
- Parkir dengan ban dalam posisi lurus pada permukaan datar bila memungkinkan.
- Untuk EV, pilih ban yang memang dirancang untuk kendaraan listrik guna memaksimalkan efisiensi dan kenyamanan.
Dengan memahami faktor‑faktor teknis di atas, pemilik kendaraan dapat memisahkan antara mitos yang bersifat tradisional dengan fakta ilmiah yang didukung oleh para ahli. Ban yang jarang dipakai memang tidak otomatis kebal terhadap kerusakan, namun perawatan yang tepat dan pemilihan ban yang sesuai akan jauh lebih menentukan umur pakainya.
