Keuangan.id – 29 Maret 2026 | Setiap tahunnya, umat Islam di seluruh dunia menantikan kedatangan malam Lailatul Qadar, malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Meskipun keberadaannya dirahasiakan, sejumlah ulama telah menawarkan metode untuk memperkirakan kemungkinan malam suci tersebut. Salah satu panduan yang paling dikenal berasal dari Imam Al‑Ghazali, tokoh teolog dan filsuf Islam abad pertengahan, yang mengaitkan penentuan malam Lailatul Qadar dengan hari pertama Ramadan.
Metode Imam Al‑Ghazali: Mengaitkan Hari Pertama Ramadan dengan Lailatul Qadar
Imam Al‑Ghazali menuliskan pendekatan ini dalam karya klasik I’anatut Thalibin, khususnya pada juz 2 halaman 257. Menurut beliau, setiap hari pertama Ramadan dapat menjadi petunjuk untuk memperkirakan malam Lailatul Qadar dalam sepuluh malam terakhir. Rumus sederhana yang dipaparkan adalah:
- Jika hari pertama Ramadan jatuh pada hari Senin, maka Lailatul Qadar diperkirakan pada malam ke‑27.
- Jika jatuh pada hari Selasa, perkiraan malam ke‑29.
- Jika jatuh pada hari Rabu, perkiraan malam ke‑21.
- Jika jatuh pada hari Kamis, perkiraan malam ke‑25.
- Jika jatuh pada hari Jumat, perkiraan malam ke‑23.
- Jika jatuh pada hari Sabtu, perkiraan malam ke‑21.
- Jika jatuh pada hari Minggu, perkiraan malam ke‑27.
Metode ini tidak menjamin kepastian, melainkan memberikan rentang kemungkinan yang memudahkan umat untuk memfokuskan ibadah pada malam-malam yang lebih berpotensi.
Penetapan Awal Ramadan 2026 di Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui Badan Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH) telah mengumumkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan ini didasarkan pada hasil sidang isbat dan perhitungan astronomi resmi.
Dengan mengacu pada rumus Imam Al‑Ghazali, hari Kamis sebagai hari pertama Ramadan menandakan bahwa malam Lailatul Qadar diperkirakan terjadi pada malam ke‑25 Ramadan. Menghitung selisih hari dari 1 Ramadan, malam ke‑25 jatuh pada tanggal 15 Maret 2026, yang bertepatan dengan hari Minggu.
Praktik Ibadah pada Sepuluh Malam Terakhir
Walaupun prediksi memberikan titik fokus, para ulama tetap menekankan pentingnya memperbanyak ibadah selama seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29). Anjuran ini selaras dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyarankan umatnya untuk tidak menaruh harapan pada satu malam saja.
Berikut beberapa amalan yang dianjurkan selama periode tersebut:
- Shalat Tarawih dan Tahajud secara intensif.
- Membaca Al‑Qur’an, khususnya Surah Al‑Qadr.
- Berdoa memohon ampunan dan keselamatan dunia serta akhirat.
- Memberi sedekah kepada fakir miskin dan membantu sesama.
- Mengulang kembali niat puasa dan meningkatkan kualitas ibadah.
Makna Spiritual Lailatul Qadar dalam Perspektif Al‑Ghazali
Imam Al‑Ghazali tidak hanya memberikan rumus matematis, melainkan juga menekankan dimensi spiritual malam tersebut. Menurutnya, Lailatul Qadar adalah momentum ketika rahmat Allah melimpah, pintu takdir terbuka, dan doa-doa yang diucapkan dengan tulus berpotensi diangkat. Oleh karena itu, persiapan mental dan hati menjadi sama pentingnya dengan perhitungan tanggal.
Al‑Ghazali juga mengingatkan bahwa fokus berlebihan pada prediksi dapat menimbulkan kelalaian pada malam-malam lain yang memiliki nilai pahala setara. Kesadaran akan sifat rahasia malam suci mengajarkan umat untuk tetap konsisten dalam kebaikan, tanpa mengandalkan satu malam saja.
Kesimpulan
Dengan mengacu pada metode Imam Al‑Ghazali, malam Lailatul Qadar pada tahun 2026 diperkirakan jatuh pada malam ke‑25 Ramadan, yaitu 15 Maret 2026. Meskipun prediksi ini memberikan panduan praktis, ajaran Islam tetap menekankan pentingnya memperbanyak ibadah pada seluruh sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Kombinasi antara perhitungan astronomi, panduan klasik, dan intensitas spiritual menjadi kunci bagi umat Islam untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar tanpa mengabaikan nilai konsistensi dalam beribadah.
