Berita  

Misteri Candi Emas Ditemukan di Hutan Bandarban, Mengungkap Sejarah Tersembunyi

Misteri Candi Emas Ditemukan di Hutan Bandarban, Mengungkap Sejarah Tersembunyi
Misteri Candi Emas Ditemukan di Hutan Bandarban, Mengungkap Sejarah Tersembunyi

Keuangan.id – 29 Maret 2026 | Tim arkeolog nasional melaporkan penemuan menakjubkan berupa sebuah candi berlapis emas yang tersembunyi di dalam hutan lebat Kabupaten Bandarban, Jawa Barat. Penemuan ini menimbulkan kegembiraan sekaligus pertanyaan mendalam tentang asal‑usulnya, karena tidak ada catatan sejarah lokal yang menyebutkan keberadaan struktur keagamaan serupa di wilayah tersebut.

Penemuan dan Penyelidikan Awal

Penemuan dimulai pada akhir Februari 2026 ketika tim survei satelit mengidentifikasi anomali reflektif pada area hutan yang sebelumnya tak terjamah. Tim lapangan yang dipimpin oleh Dr. Andi Prasetyo, Kepala Pusat Penelitian Arkeologi, menurunkan peralatan LIDAR dan berhasil memetakan struktur piramidal setinggi tiga meter yang tampak dilapisi logam mengkilap.

Setelah pengecekan visual, tim menemukan bahwa permukaan candi terbuat dari lembaran emas tipis yang menempel pada batu granit berwarna coklat kemerahan. Analisis laboratorium awal menunjukkan bahwa emas tersebut memiliki kadar kemurnian sekitar 92%, mirip dengan tembaga emas yang diproduksi pada abad ke-17 di wilayah Jawa Tengah.

Hubungan dengan Sejarah Lokal

Penemuan ini mengingatkan pada kisah Desa Jungsemi di Kendal, Jawa Tengah, yang didirikan oleh seorang prajurit loyal Sultan Agung pada abad ke-17. Menurut catatan lisan, prajurit tersebut, Sokerto Wongso Dikromo alias Mbah Laistiddin, membangun desa di hutan belantara sebagai tempat persembunyian dan pusat strategi melawan VOC. Meskipun tidak ada bukti langsung yang mengaitkan Jungsemi dengan candi emas di Bandarban, kesamaan kronologis dan penggunaan hutan sebagai lokasi strategis menimbulkan spekulasi bahwa jaringan tempat persembunyian dan simbol keagamaan dapat memiliki pola yang serupa.

Beberapa ahli sejarah mengusulkan bahwa candi emas mungkin merupakan hasil dari upaya simbolik untuk mengukuhkan otoritas spiritual dan militer di wilayah yang sedang dilanda konflik kolonial. Penggunaan emas sebagai bahan utama menunjukkan adanya dukungan finansial yang signifikan, kemungkinan berasal dari hasil pajak atau harta rampasan perang.

Analisis Arkeologis dan Teknis

  • Material: Lembar emas tipis (92% kemurnian) dipasang pada batu granit, mengindikasikan teknik metalurgi lanjutan.
  • Arsitektur: Bentuk piramidal dengan relief sederhana yang menampilkan motif daun palem dan simbol bintang delapan, ciri khas kebudayaan Mataram Islam.
  • Usia: Radiokarbon pada lapisan kayu yang ditemukan di dalam struktur memberi perkiraan umur sekitar 380 tahun, menempatkannya pada awal abad ke-17.

Tim laboratorium juga menemukan sisa-sisa keramik berwarna biru tua yang sejalan dengan gaya Majapahit, menambah lapisan kompleksitas pada identifikasi budaya.

Reaksi Masyarakat dan Pemerintah

Pemerintah Kabupaten Bandarban segera mengumumkan zona perlindungan khusus di sekitar situs, sementara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan komitmen untuk melestarikan dan meneliti lebih lanjut. Warga setempat, yang sebagian besar bergantung pada pertanian dan pariwisata alam, menyambut baik penemuan ini sebagai potensi peningkatan ekonomi melalui wisata budaya.

Namun, ada pula keprihatinan tentang dampak lingkungan. Lembaga Lingkungan Hidup setempat mengingatkan agar penelusuran arkeologis tidak mengganggu ekosistem hutan, terutama satwa langka yang hidup di kawasan tersebut.

Langkah Selanjutnya

Tim arkeolog berencana melakukan penggalian lebih mendalam, termasuk pengambilan sampel batuan untuk analisis isotop guna melacak asal bahan baku emas. Selain itu, proyek dokumentasi digital 3D akan diimplementasikan untuk memungkinkan akses virtual bagi peneliti internasional tanpa menambah tekanan pada lokasi fisik.

Jika hasil penelitian selanjutnya mengonfirmasi bahwa candi emas ini terkait dengan jaringan strategis Mataram Islam, maka temuan ini dapat merevisi pemahaman sejarah tentang cara kerajaan Jawa pada masa itu mengintegrasikan simbol keagamaan, ekonomi, dan militer dalam upaya melawan penjajahan.

Penemuan candi emas di hutan Bandarban tidak hanya membuka babak baru dalam arkeologi Indonesia, tetapi juga menegaskan pentingnya pelestarian hutan sebagai saksi bisu peradaban kuno. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bersinergi menjaga situs ini demi generasi mendatang.

Exit mobile version