Keuangan.id – 11 April 2026 | Minyak jelantah, yang biasanya dibuang setelah digunakan untuk menggoreng, kini semakin dipertimbangkan sebagai bahan baku utama Sustainable Aviation Fuel (SAF). Dengan tekanan global untuk mengurangi emisi karbon, sektor penerbangan mencari alternatif bahan bakar yang dapat diproduksi secara lokal dan ramah lingkungan.
Potensi ekonomi dari konversi minyak jelantah menjadi SAF sangat signifikan. Sebuah studi internal memperkirakan bahwa 1.000 ton minyak jelantah dapat menghasilkan sekitar 850 000 liter SAF, yang cukup untuk menerbangkan ratusan ribu penumpang pada rute domestik. Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, proses ini membuka peluang usaha baru bagi pengumpul limbah, pabrik pengolahan, dan perusahaan energi.
Namun, ekosistem yang mendukung masih dalam tahap awal. Tantangan utama meliputi:
- Ketersediaan dan standar kualitas minyak jelantah yang konsisten.
- Infrastruktur pengolahan yang memerlukan investasi tinggi.
- Regulasi yang belum sepenuhnya mengatur siklus produksi SAF berbasis limbah.
Berikut langkah-langkah yang dapat mempercepat komersialisasi SAF dari minyak jelantah:
- Pembentukan jaringan kolektor limbah yang terstandarisasi.
- Pengembangan fasilitas konversi dengan teknologi hydro‑processing.
- Penetapan standar kualitas dan sertifikasi SAF sesuai regulasi internasional.
- Insentif fiskal bagi pelaku usaha yang beralih ke produksi SAF.
- Kerjasama antara pemerintah, akademisi, dan industri untuk riset dan pengujian skala pilot.
Data perkiraan produksi dan konsumsi dapat dilihat pada tabel berikut:
| Tahun | Produksi Minyak Jelantah (ton) | SAF yang Dihasilkan (liter) | Permintaan SAF Nasional (liter) |
|---|---|---|---|
| 2023 | 2.200 | 1.870.000 | 3.500.000 |
| 2024 | 3.000 | 2.550.000 | 4.200.000 |
| 2025 | 4.000 | 3.400.000 | 5.000.000 |
Jika dukungan kebijakan dan investasi dapat terwujud, sektor ini berpotensi menyerap ribuan tenaga kerja, mengurangi limbah cair, serta mendukung target net‑zero Indonesia pada 2060. Dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai sumber energi terbarukan, Indonesia tidak hanya mengatasi permasalahan lingkungan, tetapi juga menciptakan basis ekonomi baru di tengah transisi energi global.











