Keuangan.id – 15 April 2026 | Bank–bank di Indonesia terus meningkatkan penerbitan obligasi meskipun likuiditas pasar masih tergolong longgar. Hal ini menjadi strategi utama untuk mengantisipasi kebutuhan dana jangka menengah hingga panjang serta menjaga fleksibilitas neraca di tengah pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang masih tinggi.
- Memperpanjang jangka waktu pendanaan dibandingkan dengan deposito berjangka.
- Mengunci biaya dana ketika suku bunga pasar masih berada pada level yang relatif rendah.
- Meningkatkan profil kredit bank dengan menambah aset berbentuk surat berharga.
Berikut ini beberapa contoh penerbitan obligasi terbaru yang dilaporkan oleh bank-bank besar di Indonesia:
| Bank | Jumlah (miliar IDR) | Tenor | Yield |
|---|---|---|---|
| Bank BNI | 15 | 5 tahun | 5,75% |
| Bank Mandiri | 20 | 7 tahun | 6,10% |
| Bank BCA | 12 | 3 tahun | 5,40% |
| Bank BTN | 10 | 5 tahun | 5,90% |
Penawaran obligasi tersebut berhasil terjual habis dalam waktu singkat, menandakan minat kuat dari investor institusional dan ritel. Meskipun likuiditas sistem keuangan masih dalam zona longgar, bank-bank memilih obligasi sebagai instrumen yang dapat mengurangi ketergantungan pada dana simpanan yang mudah berubah-ubah.
Para analis memperkirakan tren penerbitan obligasi akan tetap berlanjut selama DPK terus menunjukkan pertumbuhan positif dan kebijakan moneter Bank Indonesia tetap mendukung suku bunga yang stabil. Di sisi lain, risiko suku bunga naik secara mendadak tetap menjadi perhatian, karena dapat meningkatkan beban biaya dana bagi bank yang memiliki obligasi berjangka panjang.
Dengan strategi diversifikasi pendanaan melalui pasar obligasi, bank-bank diharapkan dapat memperkuat likuiditas internal serta meningkatkan daya saing di pasar keuangan domestik.
