Mentan Amran Bentak Impor Beras: Produksi Naik, Ekspor Sepi, Stok Capai Rekor 4,5 Juta Ton

Mentan Amran Bentak Impor Beras: Produksi Naik, Ekspor Sepi, Stok Capai Rekor 4,5 Juta Ton
Mentan Amran Bentak Impor Beras: Produksi Naik, Ekspor Sepi, Stok Capai Rekor 4,5 Juta Ton

Keuangan.id – 02 April 2026 | Jawa Barat, 1 April 2026 – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa ketahanan pangan kini menjadi instrumen strategis dalam pertahanan negara. Dalam sambutan di Stadium General Pasis Sesko AU Angkatan ke‑64, ia mengkritik dinamika pasar global yang menyebabkan impor beras “ribut” sementara ekspor Indonesia hampir sepi.

Produksi dalam negeri menguat, impor menurun

Amran menyatakan, “Kalau pangan tidak kita kuasai, negara bisa ditekan. Tapi hari ini kita buktikan, produksi naik, impor turun, dan Indonesia semakin kuat.” Data dari United States Department of Agriculture (USDA) dan Kementerian Pertanian menunjukkan tren peningkatan produksi beras secara konsisten selama tiga tahun terakhir.

Stok beras nasional yang tercatat di Bulog mencapai 4,3 juta ton, dan target pemerintah adalah menambahnya menjadi 4,5 juta ton dalam waktu dekat. Peningkatan ini dianggap sebagai bukti nyata bahwa Indonesia telah keluar dari posisi importir menjadi pemain yang diperhitungkan di pasar dunia.

Penyerapan produksi domestik memecahkan rekor

Kepala Badan Pangan Nasional (Kabapanas), yang sekaligus dijabat oleh Mentan Amran, melaporkan bahwa penyerapan beras setara produksi dalam negeri selama Januari‑Maret 2026 mencapai 1,3 juta ton. Jika ditambah penyerapan bulan April diperkirakan mencapai 1 juta ton, total penyerapan kuartal pertama dapat melampaui 2,3 juta ton.

Angka ini jauh melampaui capaian sebelumnya, misalnya pada periode yang sama tahun 2025 hanya tercatat 719,3 ribu ton. Pemerintah menargetkan Perum Bulog menyerap 4 juta ton setara beras pada tahun 2026 untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan menjaga swasembada yang telah dicapai sejak akhir 2025.

Swasembada sembilan komoditas strategis

Menurut Kementerian Pertanian, Indonesia kini telah mencapai swasembada pada sembilan komoditas pangan strategis: beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah. Keberhasilan ini mengurangi ketergantungan impor yang sebelumnya menjadi titik lemah dalam menghadapi krisis global.

Strategi energi dan hilirisasi CPO

Selain pangan, Amran menyoroti pentingnya kemandirian energi. Indonesia, sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar dunia dengan lebih dari 60 % pangsa pasar, berupaya memperkuat hilirisasi sawit untuk menurunkan impor energi. Pengamat pertanian Deby Syahputra menilai ilustrasi Mentan tentang “kekuatan CPO Indonesia” sebagai gambaran pengaruh strategis Indonesia di pasar global, bukan sekadar perbandingan dengan Selat Hormuz.

Implikasi bagi perdagangan dan keamanan nasional

Pengendalian impor beras dan peningkatan produksi telah menimbulkan efek berganda. Harga beras domestik tetap stabil, sementara kebijakan ini mulai memengaruhi dinamika harga pangan dunia. Negara‑negara seperti Malaysia, Australia, Jepang, dan Kanada kini mempelajari model Indonesia untuk menjaga stabilitas pasokan mereka.

Amran menegaskan, “Kalau pangan dan energi kita kuat, tidak ada negara yang bisa menekan kita.” Pendekatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga meningkatkan ketahanan desa melalui program koperasi dan penciptaan lapangan kerja.

Dengan konsistensi kebijakan dan percepatan penyerapan hasil panen, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk mempertahankan posisi strategisnya di arena pangan dan energi global.

Kesimpulannya, upaya pemerintah yang terintegrasi—dari peningkatan produksi, penyerapan stok, hingga hilirisasi komoditas utama—menegaskan bahwa pangan tidak lagi sekadar kebutuhan dasar, melainkan benteng utama pertahanan negara.

Exit mobile version