Keuangan.id – 27 April 2026 | Di sebuah desa pinggiran Pandeglang, seorang ibu tunggal telah menempuh perjalanan panjang selama satu dekade untuk menghidupi dua anaknya di dalam sebuah rumah gubuk tanpa listrik. Tanpa bantuan listrik, air bersih, atau fasilitas dasar, ia mengandalkan ketekunan, kreativitas, dan dukungan komunitas untuk memastikan anak‑anaknya tetap dapat bersekolah dan tumbuh sehat.
Kehidupan Sehari‑hari di Rumah Gubuk Tanpa Listrik
Rumah gubuk tersebut berukuran kurang lebih 4×6 meter, dibangun dari bambu, anyaman daun kelapa, dan atap yang ditutup oleh daun sagu yang berlubang. Pada musim hujan, atap yang tembus air meneteskan tetesan ke lantai tanah, membuat interior selalu lembab. Tidak ada instalasi listrik; ibu tersebut memasak dengan kompor kayu sederhana, menyalakan lampu minyak tanah ketika malam tiba, dan mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan pakaian.
Setiap pagi, sang ibu bangun sebelum fajar, menyalakan kompor kayu, dan menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi uduk dan sayur yang ditanam di pekarangan kecil. Anak pertama, berusia 10 tahun, membantu mengumpulkan air dari sumur terdekat yang berjarak sekitar 200 meter, sementara anak kedua, berusia 7 tahun, menyiapkan peralatan sekolah. Setelah sarapan, ibu berangkat ke pasar desa untuk menjual sayuran yang dipelihara di kebun, serta melakukan pekerjaan serabutan seperti mengantar barang atau membantu tetangga memindahkan barang.
Dukungan Komunitas dan Upaya Swadaya
Seperti kisah Obet Kwan, seorang pria yang telah tinggal 31 tahun di gubuk reyot di Manokwari, ibu di Pandeglang tidak sendirian dalam perjuangannya. Pada 2023, sejumlah relawan lokal membentuk kelompok “Harapan Pandeglang” yang secara rutin mengirimkan sembako, pakaian, dan masker kesehatan. Mereka juga membantu memperbaiki atap gubuk dengan menambahkan lapisan plastik transparan agar air hujan tidak langsung masuk.
Selain bantuan material, relawan mengajarkan teknik pertanian organik yang lebih efisien, sehingga ibu dapat meningkatkan hasil panen jagung, singkong, dan sayuran daun. Pendapatan tambahan dari penjualan surplus hasil pertanian menjadi sumber utama untuk biaya pendidikan anak‑anaknya.
Keluhan Terhadap Pemerintah dan Harapan Kebijakan
Meskipun sudah sepuluh tahun menempati rumah gubuk tanpa listrik, sang ibu belum pernah menerima bantuan langsung dari pemerintah daerah. Ia menuntut agar pemerintah memperhatikan warga ekonomi lemah seperti dirinya, terutama dalam penyediaan listrik desa, akses air bersih, dan program perumahan layak huni. Ia berharap kebijakan subsidi listrik atau program pembangunan rumah sederhana dapat segera diimplementasikan.
Kisah ini mencerminkan tantangan luas yang dihadapi oleh ribuan keluarga di pelosok Indonesia. Tanpa listrik, akses pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi tetap terbatas. Pemerintah dan lembaga non‑pemerintah diharapkan dapat berkolaborasi untuk menyediakan infrastruktur dasar, memperkuat jaringan bantuan sosial, serta menggalakkan program pelatihan keterampilan agar keluarga‑keluarga seperti ini dapat keluar dari lingkaran kemiskinan.
Dengan ketangguhan luar biasa, ibu tersebut terus berjuang demi masa depan anak‑anaknya. Ia mengajarkan nilai kerja keras, rasa syukur, dan pentingnya solidaritas. Semangatnya menjadi inspirasi bagi banyak pihak yang peduli pada kesejahteraan masyarakat pinggiran, sekaligus mengingatkan bahwa perubahan nyata membutuhkan tindakan bersama antara pemerintah, komunitas, dan individu.
Keberlanjutan hidup di rumah gubuk tanpa listrik bukan sekadar cerita bertahan, melainkan panggilan untuk memperbaiki kesenjangan dasar. Jika dukungan terus mengalir, harapan akan terwujud menjadi rumah yang lebih aman, listrik yang menyinari, dan masa depan yang lebih cerah bagi generasi selanjutnya.
