Keuangan.id – 03 April 2026 | Bandung, 2 April 2026 – Dua kapal tanker milik Pertamina, Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih terhalang untuk melintasi Selat Hormuz meski kapal serupa milik Malaysia dapat melintas tanpa dikenai tarif. Kendala ini muncul di tengah krisis energi global yang diprediksi akan melampaui gejolak minyak tahun 1970-an.
Posisi dan Status Kapal Saat Ini
Menurut data AIS yang dipantau secara real‑time, Pertamina Pride berada 26,6 mil laut (49,2 km) di Teluk Persia, tepatnya di sebelah timur laut dermaga Ras Tanura, Arab Saudi. Kapal yang dibangun pada 2021 ini terakhir berlabuh di Ras Tanura sekitar 12 hari yang lalu dan dijadwalkan tiba di Pelabuhan Cilacap pada 2 April 2026 pukul 09.00 WIB.
Sementara itu, Gamsunoro (IMO 9677313, MMSI 352004258) berlayar sekitar 28,8 mil laut (53,3 km) barat daya Dubai, Uni Emirat Arab, dengan status “for orders”. Kapal ini baru saja meninggalkan Basrah Oil Terminal, Irak, setelah menunggu instruksi lanjutan.
Faktor Geopolitik yang Menyebabkan Penundaan
Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), telah memberlakukan sistem “pos tol” atau toll booth di Selat Hormuz. Skema pemeriksaan ketat ini mengharuskan setiap kapal yang ingin melintas menyerahkan data sensitif seperti nomor IMO, dokumen kargo, dan daftar kru kepada perantara IRGC. Jika disetujui, kapal akan menerima kode klirens dan rute khusus.
Ketua Komite Urusan Sipil Parlemen Iran, Mohammadreza Rezaei Kouchi, menegaskan bahwa Iran berhak memungut biaya sebagai jaminan keamanan, serupa dengan bea masuk di koridor perdagangan lainnya. Kebijakan ini masih dalam tahap finalisasi undang‑undang, namun IRGC sudah menjalankannya secara operasional.
Reaksi Pemerintah Indonesia
Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan sinyal positif dari pemerintah Iran terkait perlintasan kapal Pertamina. Juru bicara Yvonne Mewengkang menyatakan bahwa koordinasi antara Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Kedutaan Besar Iran di Tehran, dan Pertamina telah menghasilkan pertimbangan positif atas keamanan perlintasan. Namun, ia menambahkan bahwa kesiapan teknis, asuransi, dan kesiapan kru masih harus dipenuhi sebelum izin dapat diaktifkan.
Kenapa Kapal Malaysia Tidak Dikenai Tarif?
Kapalan milik perusahaan Malaysia, yang beroperasi melalui perjanjian bilateral yang lebih lama, secara historis telah mendapatkan pengecualian tarif di Selat Hormuz. Perjanjian tersebut mencakup mekanisme inspeksi yang lebih ringan dan penggunaan jalur alternatif yang tidak melibatkan pos tol IRGC. Selain itu, Malaysia memiliki jaringan logistik yang lebih fleksibel untuk mengalihkan muatan ke pelabuhan lain bila diperlukan, sehingga tekanan politik terhadap kapal mereka relatif lebih rendah.
Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Pasar Energi Global
Penutupan fisik Selat Hormuz selama sebulan terakhir mengancam hilangnya 13–20 juta barel minyak per hari, setara dengan seperlima kebutuhan dunia. Harga minyak mentah telah menembus US$100 per barel, mengingat stok yang tersisa akan cepat habis. Analis energi menilai bahwa krisis 2026 berpotensi lebih parah dibandingkan krisis minyak 1973, yang hanya menurunkan pasokan sebesar 4–5 juta barel per hari.
- Kerugian ekonomi global diproyeksikan mencapai US$300 miliar per bulan.
- Inflasi energi diperkirakan naik 1,5‑2 poin persentase di negara‑negara importir.
- Pertumbuhan PDB global diprediksi melambat 0,4‑0,6%.
Langkah-langkah yang Ditempuh Pertamina
Pertamina International Shipping (PIS) tengah menyiapkan dokumen teknis, asuransi perlindungan, serta pelatihan kru untuk memenuhi persyaratan IRGC. Pihak perusahaan juga menghubungi konsultan maritim internasional guna memastikan bahwa rute yang akan diberikan oleh Iran aman dari potensi serangan militer atau terorisme laut.
Sementara itu, pemerintah Indonesia berkoordinasi dengan sekutu regional, termasuk negara‑negara ASEAN, untuk menekan Iran membuka jalur pelayaran secara non‑diskriminatif. Upaya diplomatik ini diharapkan dapat mempercepat proses klirens bagi kapal Pertamina.
Jika izin perlintasan akhirnya diberikan, Pertamina Pride dan Gamsunoro diperkirakan akan tiba di pelabuhan tujuan masing‑masing dalam tiga hingga lima hari, tergantung kondisi cuaca dan keamanan di wilayah tersebut.
Kesimpulannya, kombinasi kebijakan tarif baru Iran, ketegangan militer antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, serta prosedur administratif yang belum selesai menjadi penyebab utama dua kapal tanker Pertamina belum dapat melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, kapal Malaysia dapat melintas karena perjanjian bilateral yang lebih menguntungkan serta fleksibilitas operasional. Situasi ini menambah tekanan pada pasar energi global yang sudah berada di ambang krisis, menuntut respons cepat dari pemerintah dan industri energi Indonesia.
