Masa Depan FIGC: Tiga Calon Legendaris Siap Gantikan Gravina, Maldini Buka Bursa Kepemimpinan

Masa Depan FIGC: Tiga Calon Legendaris Siap Gantikan Gravina, Maldini Buka Bursa Kepemimpinan
Masa Depan FIGC: Tiga Calon Legendaris Siap Gantikan Gravina, Maldini Buka Bursa Kepemimpinan

Keuangan.id – 06 April 2026 | Setelah kegagalan timnas Italia tidak lolos ke Piala Dunia 2026, kursi Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) kini kembali kosong. Gabriele Gravina mengundurkan diri, memicu proses seleksi yang dijadwalkan selesai pada 13 Mei dan pemilihan resmi pada 22 Juni mendatang. Di tengah spekulasi, tiga nama legendaris muncul sebagai calon kuat yang dapat mengembalikan kejayaan sepak bola Italia: Paolo Maldini, Alessandro Del Piero, dan Alessandro Costacurta.

Paolo Maldini: Ikon AC Milan dan Kandidat Unggulan

Paolo Maldini, mantan bek kiri AC Milan yang pernah meraih Ballon d’Or (menurut beberapa sumber, ia termasuk dalam jajaran nominasi tertinggi), menjadi sorotan utama. Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, secara terbuka mendorong Maldini untuk mencalonkan diri, menilai bahwa pengalaman lapangan dan reputasi internasionalnya dapat memberikan perspektif baru dalam kebijakan FIGC. Selain itu, eks‑Presiden CONI Giovanni Malago diperkirakan akan mengusulkan kombinasi antara kepemimpinan administratif dan latar belakang pemain, mengingat ia pernah mengangkat Roberto Fabbricini sebagai komisaris pada krisis 2018.

Alessandro Del Piero: Pengalaman dan Visi Kebangkitan

Alessandro Del Piero, legenda Juventus yang juga memegang lisensi UEFA Pro, mengemukakan gagasan revitalisasi sepak bola Italia. Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, ia menekankan pentingnya kolaborasi tim, semangat antusias, dan pembaruan metodologi pelatihan. Del Piero berpendapat, “Tidak ada satu orang yang dapat menyelesaikan semua, tetapi tim yang solid dapat mengembalikan Italia ke jalur kemenangan.” Pernyataan ini menambah bobotnya sebagai calon yang tidak hanya mengandalkan nama, tetapi juga visi strategis.

Alessandro Costacurta: Pengalaman Lapangan dan Koneksi Politik

Alessandro Costacurta, bek tengah AC Milan yang pernah menjadi bagian penting dalam era dominasi klub di akhir 1990‑awal 2000-an, kembali disebut-sebut. Ia pernah menjabat sebagai wakil komisaris dalam struktur FIGC pada masa krisis 2018, bekerja sama dengan Costacurta yang memiliki jaringan luas di kalangan pemain dan pelatih. Kedekatannya dengan Malago dan dukungan dari mantan pemain lain menambah kredibilitasnya sebagai kandidat yang siap memimpin reformasi struktural.

Dinamik Kandidasi dan Proses Seleksi

Proses pencalonan diperkirakan berlangsung hingga batas akhir pendaftaran pada 13 Mei. Selama periode ini, FIGC akan menilai kelayakan administratif, visi kebijakan, serta dukungan politik. Giovanni Malago, yang pernah menjabat sebagai Presiden CONI, diyakini akan mempertimbangkan calon dengan latar belakang pemain untuk menyeimbangkan aspek teknis dan manajerial. Ia menyatakan, “Pengalaman di lapangan dapat memberikan perspektif berbeda dalam pengambilan keputusan FIGC.”

Fabio Capello: Penolakan dan Peringatan 10‑Tahun

Sementara tiga nama di atas menjadi sorotan, legenda pelatih Fabio Capello menolak keras tawaran untuk menjabat di FIGC. Capello menegaskan, “Di usia saya sekarang? Apakah Anda gila?” Ia menyoroti kebutuhan proyek jangka panjang selama sepuluh tahun untuk mengatasi masalah struktural, terutama dalam pembinaan pemain muda. Menurut Capello, kegagalan Italia berulang kali dalam kualifikasi Piala Dunia mencerminkan “kurangnya fokus pada teknik dasar dan program pelatihan yang seragam bagi anak‑anak usia 12 tahun.”

Harapan dan Tantangan Kedepan

  • Reformasi struktural: Dibutuhkan perubahan pada sistem pembinaan usia dini, menghindari skema yang terlalu mirip dengan tim profesional.
  • Kolaborasi antar pemangku kepentingan: Kombinasi antara eks‑pemain, manajer, dan pejabat akan menjadi kunci.
  • Visi jangka panjang: Seperti yang diusulkan Capello, rencana 10‑tahun harus diimplementasikan segera.

Dengan tiga calon legendaris yang membawa pengalaman lapangan, dukungan politik, dan visi strategis, harapan publik terhadap pemilihan presiden FIGC meningkat. Jika salah satu dari mereka terpilih, Italia dapat mengantisipasi reformasi yang diperlukan untuk kembali bersaing di panggung internasional.

Keputusan akhir akan diumumkan pada 22 Juni. Sementara itu, mata dunia sepak bola menanti apakah legenda AC Milan, peraih Ballon d’Or, akan memimpin bursa kepemimpinan FIGC demi kebangkitan Azzurri.

Exit mobile version