Keuangan.id – 03 April 2026 | Krisis energi yang melanda dunia pada 2026 memaksa banyak negara, termasuk Indonesia, untuk meninjau kembali kebijakan transportasi mereka. Ketergantungan pada bahan bakar fosil membuat sistem transportasi rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan, sehingga pemerintah, akademisi, dan produsen otomotif menyoroti elektrifikasi, khususnya motor listrik, sebagai jalan keluar yang realistis.
Tekanan Krisis Energi dan Dampaknya pada Transportasi
Lonjakan harga BBM akibat konflik geopolitik serta ketidakpastian pasokan energi mengancam daya beli masyarakat. Dalam konteks ini, transportasi umum dan pribadi menjadi beban utama. Para pakar, seperti Djoko Setijowarno dari Unika Soegjapranata, menegaskan bahwa infrastruktur transportasi—baik jaringan jalan maupun layanan angkutan umum—harus menjadi prioritas anggaran daerah, bukan belanja birokrasi yang berlebihan.
Motor Listrik sebagai Solusi Strategis
Motor listrik menawarkan dua keunggulan utama: pengurangan biaya operasional bagi pengguna dan penurunan konsumsi BBM nasional. Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif ITB, menjelaskan bahwa kendaraan listrik (EV) sepenuhnya tidak bergantung pada bahan bakar fosil, sementara kendaraan hibrida (HEV) dapat menghemat 30‑50 % konsumsi BBM tanpa memerlukan infrastruktur pengisian masif. Pada situasi krisis, HEV menjadi opsi transisi yang paling realistis, sedangkan EV diharapkan akan tumbuh seiring perluasan jaringan charging di kota‑kota besar.
Dukungan Pemerintah dan Inisiatif Daerah
Pemerintah pusat telah menegaskan rencana konversi massal kendaraan bermotor menjadi listrik. Presiden Prabowo Subianto menyebutkan target konversi 120 juta motor bensin menjadi listrik dalam beberapa tahun ke depan. Beberapa pemerintah daerah, seperti Kota Semarang, telah mengoperasikan bus listrik di Jalan Pemuda, yang berhasil menurunkan biaya transportasi publik dan memperkuat ketahanan energi daerah. Alokasi APBD kini diarahkan untuk subsidi pembelian motor listrik, pembangunan stasiun pengisian, serta perawatan jaringan listrik yang dapat menampung beban tambahan.
Peran Produsen Lokal Davigo
Produsen motor listrik Davigo menilai bahwa krisis energi global memberikan momentum penting bagi industri domestik. Menurut General Manager Davigo, Aprizal, motor listrik dapat melindungi konsumen dari volatilitas harga BBM dan mendukung agenda dekarbonisasi nasional. Davigo berencana memperluas lini produk dengan baterai berkapasitas tinggi serta jaringan layanan purna jual di wilayah 3TP (terpencil, terluar, tertinggal, dan pedalaman). Kolaborasi dengan pemerintah daerah diharapkan dapat mempercepat adopsi motor listrik di sektor transportasi publik, termasuk layanan angkutan desa dan transmigrasi.
Proyeksi Masa Depan dan Tantangan
Walaupun potensi adopsi motor listrik semakin jelas, sejumlah tantangan masih harus diatasi. Ketersediaan listrik bersih, terutama yang tidak bergantung pada batu bara, menjadi faktor penentu keberlanjutan. Selain itu, diperlukan kebijakan insentif yang konsisten, seperti pembebasan pajak kendaraan listrik, subsidi harga baterai, serta standar keamanan yang ketat. Tanpa dukungan infrastruktur yang merata, adopsi di luar Jawa dapat terhambat.
Secara keseluruhan, krisis energi global telah mengubah persepsi masyarakat dan pembuat kebijakan terhadap motor listrik dari sekadar tren menjadi kebutuhan strategis. Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan produsen lokal, Indonesia berada pada posisi yang tepat untuk memanfaatkan momentum ini, memperkuat ketahanan energi, dan mewujudkan transportasi yang lebih bersih, terjangkau, serta inklusif.
