Keuangan.id – 11 Maret 2026 | Ketegangan geopolitik yang memuncak di kawasan Timur Tengah pada awal Maret 2026 kembali menggegerkan pasar energi dunia. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel serta serangan terhadap fasilitas energi di Rusia menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global. Dampaknya terasa nyata di Indonesia: harga minyak mentah dalam negeri (Indonesian Crude Price/ICP) melonjak ke US$68,79 per barel pada Februari, sementara nilai tukar rupiah mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Tajam
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan rata‑rata ICP sebesar US$68,79 per barel untuk bulan Februari 2026, naik US$4,38 dibandingkan Januari yang hanya US$64,41. Keputusan Menteri Energi No.115.K/MG.03/MEM.M/2026 menyoroti beberapa faktor utama penyebab kenaikan, antara lain:
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu latihan militer dan potensi gangguan jalur distribusi energi.
- Serangan terhadap fasilitas minyak di Rusia yang menambah sentimen pasar tentang ketidakpastian pasokan.
- Penurunan produksi minyak global pada awal tahun 2026, sebagaimana dilaporkan International Energy Agency (IEA), termasuk penurunan produksi OPEC+.
- Penurunan stok produk minyak di Amerika Serikat, mencerminkan kenaikan konsumsi energi.
- Peningkatan throughput pengolahan minyak di Singapura (naik 1% menjadi 89% kapasitas) serta penambahan cadangan strategis China sebesar 1 juta barel.
Pergerakan harga minyak utama pada Februari 2026 juga menunjukkan tren naik: Brent naik US$4,64 menjadi US$69,37 per barel, WTI naik US$4,26 menjadi US$64,52, dan basket OPEC naik US$5,48 menjadi US$67,79 per barel. Data lengkap dapat dilihat di Bisnis.com.
Rupiah Mendekati Level Psikologis Rp17.000
Seiring harga minyak dunia melonjak, nilai tukar rupiah melemah tajam. Pada Senin 9 Maret 2026, rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.015 per dolar AS, mencatat penurunan 0,53% dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya di level Rp16.925. Penurunan ini melampaui rekor terendah Januari (Rp16.988) dan mengingatkan pada masa Krisis Keuangan Asia 1997‑1998.
Menurut data Bloomberg, rupiah diperdagangkan di sekitar Rp16.990 pada pukul 10.55 WIB, bergerak dalam rentang Rp16.974‑Rp17.019. Pelemahan mata uang Garuda terjadi bersamaan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka di 7.374,414, turun 371,2 poin atau 4,89%.
Reaksi Pemerintah dan DPR
Ketua DPR RI, Puan Maharani, dalam rapat paripurna ke‑15 pada 10 Maret 2026 menyoroti dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi nasional. Puan meminta pemerintah segera mengambil langkah mitigasi untuk mengendalikan volatilitas harga minyak dan melindungi nilai tukar rupiah. “Kami sudah meminta kepada pemerintah, baik secara langsung atau tidak langsung, untuk memitigasi hal ini,” ujar Puan dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Jakarta.
Puan menekankan bahwa komisi‑komisi terkait akan menuntut penjelasan dari kementerian terkait serta menyesuaikan APBN 2026 agar tidak terpuruk akibat gejolak energi global. Ia juga mengingatkan perlunya koordinasi dengan Bank Indonesia dalam mengendalikan fluktuasi nilai tukar serta kebijakan fiskal yang fleksibel.
Proyeksi Harga Minyak Global
Para ekonom memperingatkan bahwa jika konflik di Timur Tengah tidak mereda, harga minyak dunia berpotensi menembus US$150 per barel. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyatakan bahwa “angka US$150 bukan mustahil secara teknis” bila Selat Hormuz terganggu secara signifikan. Sebaliknya, analis Reuters mencatat bahwa pada 9 Maret Brent sempat mencapai US$104 per barel sebelum koreksi menurunkan ke US$92,45 setelah pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump.
Menurut analis IG, Tony Sycamore, pasar diproyeksikan tetap sangat volatil dalam beberapa minggu ke depan, dengan kisaran harga antara US$75‑US$105 per barel. Faktor‑faktor pengurang tekanan meliputi kemungkinan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia dan pelepasan cadangan strategis minyak oleh Amerika Serikat.
Secara keseluruhan, kenaikan ICP, melemahnya rupiah, dan prospek harga minyak yang melambung menambah beban pada neraca perdagangan Indonesia yang sudah tertekan oleh impor energi. Pemerintah dihadapkan pada tantangan besar untuk menyeimbangkan kebijakan energi, fiskal, dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu.
Dengan dinamika pasar yang terus berubah, pemantauan ketat terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah serta respons kebijakan yang cepat menjadi kunci bagi Indonesia untuk menghindari dampak ganda berupa inflasi tinggi dan penurunan daya beli masyarakat.
